TUGAS
PERILAKU
KONSUMEN
TENTANG
RISET
KONSUMEN
DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4
· DELVIRA PUSPITASARI / 11210774
· DENNY NURAHMAN / 19210114
· DEWI KOMALASARI / 19210117
· ELLYANA UTAMI / 19210379
· FADDILAH MUHAMMAD ADAM / 12210471
· FINITA GIAN ANGGARINI / 12210787
· FLOURENZHA C.P / 12210862
· NORMAN ARIOWIBOWO / 15210036
· OCTAVIANTHI / 18210159
· SUHARTINI UMI KJH / 16210718
KELAS : 3 EA
07
UNIVERSITAS
GUNADARMA
PTA
2012/2013
RISET
KONSUMEN
A.
KONSEP DASAR,
TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP RISET KONSUMEN
Bidang
riset konsumen berkembang sebagai perluasan bidang riset pemasaran untuk
memungkinkan para pemasar meramalkan bagaimana konsumen akan bereaksi di pasar
dan memahami alasan-alasan mereka dalam mengambil keputusan untuk membeli.
Hasil-hasil riset pasar dan riset konsumen digunakan untuk memperbaiki
pengambilan keputusan manajerial
Perilaku konsumen memiliki kepentingan khusus bagi
orang karena berbagai alasan berhasrat mempengaruhi atau mengubah perilaku itu,
termasuk mereka yang kepentingan utamanya adalah pemasaran, pendidikan, dan
perlindungan konsumen, serta kebijakan umum.
Sebelum Perang Dunia II, banyak perusahaan, tetapi berorientasi pada produksi yang mencerminkan filosofi bahwa “produk yang baik akan menjual diri sendiri”. Namun persoalannya berubah sesudah perang, ketika banyak perusahaan mendapatkan bahwa mereka memiliki kapasitas yang lebih produktif daripada yang diserap pasar. Segera menjadi penting sekali untuk mengubah focus dari produksi ke pemasaran.
Elemen kunci dalam definisi ini adalah pertukaran antara pelanggan dan penyuplai. Masing-masing pihak memberikan sesuatu yang bernilai kepada pihak lain dengan tujuan memenuhi kebutuhan mereka masing-masing. Dalam konteks pembelian yang normal, uang ditukar dengan barang atau jasa yang diinginkan. Perhatikan bahwa pelanggan terletak pada inti dari proses tersebut. Semua yang dilakukan penyuplai dalam hal produk, harga, promosi dan distribusi diadaptasikan dengan permintaan pasar. Oleh karena itu pelanggan menjalankan pengaruh dominan pada semua yang dilakukan perusahaan. Tidak mengherankan bahwa studi perilaku konsumen memiliki akar utamanya di dalam bidang ekonomi, dan yang lebih baru, dalam bidang pemasaran.
Pengertian Perilaku Konsumen Saat ini konsumen begitu
dimanjakan dengan berbagai produk yang dapat dipilih untuk memenuhi kebutuhan.
Era produsen mengendalikan konsumen telah berlalu dan telah digantikan dengan
era dimana konsumen memegang kendali. Konsumen yang mendikte produk apa yang
seharusnya diproduksi oleh perusahaan. Perusahaan harus berfokus pada konsumen,
konsumen adalah bagian terpenting dari perusahaan. Konsumen lebih penting dari
pada kekasih (istri atau pacar), orang bisa hidup tanpa kekasih tetapi
perusahaan tidak bisa hidup tanpa konsumen. Oleh karena itu perusahaan perlu
mengerti bagaimana konsumenya berperilaku. Pada dasarnya perilaku konsumen
merupakan tindakan atau perilaku, termasuk di dalamnya aspek-aspek yang
mempengaruhi tindakan itu, yang berhubungan dengan usaha untuk mendapatkan
produk (barang dan jasa) guna memenuhi kebutuhannya. Tidak ada kesamaan
definisi yang dikemukanan para ahli, perbedaan itu disebabkan adanya perbedaan
sudut pandang. Perilaku manusia sangat komplek sehingga sangat sulit
digambarkan dengan kata-kata.
Pengertian perilaku konsumen menurut Shiffman dan
Kanuk (2000) adalah “Consumer behavior can be defined as the behavior that
customer display in searching for, purchasing, using, evaluating, and
disposintog of products, services, and ideas they expect will satisfy they
needs”. Pengertian tersebut berarti perilaku yang diperhatikan konsumen dalam
mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau
ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya
dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan.
Selain itu perilaku konsumen menurut Loudon dan Della Bitta (1993) adalah: “Consumer behavior may be defined as the decision process and physical activity individuals engage in when evaluating, acquiring, using, or disposing of goods and services”. Dapat dijelaskan perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.
Selain itu perilaku konsumen menurut Loudon dan Della Bitta (1993) adalah: “Consumer behavior may be defined as the decision process and physical activity individuals engage in when evaluating, acquiring, using, or disposing of goods and services”. Dapat dijelaskan perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.
Pengertian perilaku konsumen menurut Engel et al.
(1994 : 3) adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan,
mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses yang mendahului
dan menyusul dari tindakan ini. Mowen (1990 : 5) mengatakan bahwa perilaku
konsumen adalah studi unit-unit dan proses pembuatan keputusan yang terlibat
dalam menerima, menggunakan dan penentuan barang, jasa, dan ide. Difinisi
tersebut menggunakan istilah unit-unit pembuat keputusan, karena keputusan bisa
dibuat oleh individu atau kelompok. Difinisi tersebut juga mengatakan bahwa
konsumsi adalah proses yang diawali dengan penerimaan, konsumsi, dan diakhiri dengan
penentuan (disposition). Tahap penerimaan menganalisa faktor-faktor yang
mempengaruhi pilihan konsumen terhadap produk, tahap konsumsi menganalisa
bagaimana konsumen senyatanya menggunakan produk yang diperoleh.
Tahap penentuan menunjukkan apa yang dilakukan
konsumen setelah selesai menggunakan produk tersebut. Studi perilaku konsumen
adalah studi bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk menggunakan
sumber-sumber yang dimiliki pada konsumsi yang berkaitan dengan sesuatu (barang
atau jasa). Schifman dan Kanuk (1991 : 5) mengatakan studi ini meliputi; apa
yang dibeli, mengapa ia membelinya, dan berapa sering ia membelinya.
Swastha dan Handoko (1987 : 9) mendifinisikan perilaku
konsumen sebagai tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha
memperoleh dan menggunakan barang dan jasa ekonomisalnya, termasuk kegiatan
pengambilan keputusan.
Menurut Ebert dan Griffin (1995) consumer behavior
dijelaskan sebagai: “the various facets of the decision of the decision process
by which customers come to purchase and consume a product”. Dapat dijelaskan
sebagai upaya konsumen untuk membuat keputusan tentang suatu produk yang dibeli
dan dikonsumsi. Perilaku konsumen melibatkan interkasi antara pengaruh (afeksi)
dan kognisi, perilaku dan kejadian di sekitar. Untuk memahami konsumen dan
mengembangkan strategi pemasaran kita harus memahami apa yang dipikirkan
(kognisi) apa yang dirasakan (afeksi) dan apa yang mereka lakukan serta
kejadian sekitar yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan,
dirasa, dan dilakukan konsumen. Secara umum, definisi dari perilaku konsumen
adalah “interaksi dinamis antara pengaruh dan kognisi, perilaku, dan kejadian
disekitar kita, dimana terdapat aspek pertukaran didalamnya” (Peter &
Olson, 1999).
Dari definisi umum tersebut, dapat diambil kesimpulan
bahwa terdapat tiga faktor penting didalam definisi tersebut, yaitu perilaku
konsumen adalah dinamis, melibatkan interaksi antara pengaruh dan kognisi,
perilaku dan kejadian sekitar, adanya aspek pertukaran. Perilaku konsumen
adalah dinamis artinya bahwa seorang individu konsumen, suatu komunitas
konsumen, atau masayarakat luas akan selalu berubah dan bergerak sepanjang
waktu. Hal ini berdampak tidak hanya pada studi perilaku konsumen itu sendiri
akan tetapi juga pada pengembangan strategi pemasaran. Perspektif Pengaruh
Perilaku Konsumen Perilaku konsumen memiliki kepentingan khusus bagi orang
karena berbagai alasan berhasrat mempengaruhi atau mengubah perilaku itu,
termasuk mereka yang kepentingan utamanya adalah pemasaran, pendidikan, dan
perlindungan konsumen, serta kebijakan umum. Elemen kunci dalam definisi adalah
pertukaran pelanggan dan penyuplai. Masing-masing pihak memberikan sesuatu yang
bernilai kepada pihak lain yang bertujuan memenuhi kebutuhan mereka
masing-masing. Dalam konteks pembelian yang normal, uang ditukar dengan barang
atau jasa yang diinginkan. Pelanggan terletak pada inti proses tersebut. Semua
yang dilakukan penyuplai dalam hal produk, harga, promosi, dan distribusi
(“Bauran pemasaran” atau “marketing mix”) diadaptasikan dengan permintaan
pasar.
Tidak mengherankan bahwa studi perilaku konsumen memiliki
akar utamnya di dalam bidang ekonomi dan, yang lebih baru, dalam pemasaran.
Pertanyaan mendasar yang menjadi pedoman sebagian besar tulisan di dalam bidang
ini adalah, seperti yang dicatat oleh Belk,”Susunan apa dari bauran pemasaran
akan memiliki efek apa pada perilaku pembelian (purchase Behaviour) dari
konsumen jenis apa?” oleh karena itu, proses pembelian (buying process) lebih
menjadi perhatian para pemasar ketimbang proses konsumsi. Dan, penelitian
konsumen harus memiliki relevansi manajerial yang jelas di dalam konteks ini
sebelum dipertimbangkan. Analisis konsumen merupakan dasar dari managemen
pemasaran. Perencanaan dan strategi pemasaran harus disusun berdasarkan
pemahaman akan konsumen yang menjadi target pasar bagi perusahaan. Pentingnya pemahaman
mengenai konsumen dapat dijumpai dalam definisi pemasaran. Pemasaran adalah
aktivitas manusia yang diarahkan untuk memeuni kebutuhan dan keinginan melalui
proses pertukaran.
Dari definisi tersebut ada dua hal penting. Pertama
pemasar berusaha memuaskan kebutuhan dan keinginan orang lain. Kedua, pemasaran
melibatkan studi tentang pertukaran dalam mana orang saling menyerahakn sumber
daya. Agar menjadi pemasar yang berhasil mereka harus memahami factor-factor
yang mempengaruhi keinginan dan kebutuhan konsumen.
Alasan mempelajari perilaku konsumen dapat diiktisarkan
sebagai berikut:
1.
Analisis konsumen menjadi dasar bagi manager
pemasaran. Hal ini membantu menajer dalam:
Ø menyusun bauran pemasaran.
Ø segmentasi
Ø defferensiasi dan product positioning
Ø menyediakan dasar analisisi lingkungan
Ø mengembangkan riset pemasaran.
2.
Analisis konsumen memainkan peranan kritis dalam pengembangan
kebijakan publik.
3.
Pengetahuan mengenai perilakuk konsumen mengembangkan
kemampuan konsumen untuk menjadi konsumen yang lebih efektif.
4.
Analisis konsumen memberikan pengetahuan tentang
perilaku manusia.
5.
Studi perilaku konsumen memberikan 3 jenis informasi,
yaitu:
a. Orientasi konsumen
b. Fakta mengenai perilaku pembelian
c. Teori yang membimbing dalam proses berfikir.
Hubungan Pemasaran
dan Perilaku Konsumen.
Pengertian
Pemasaran menurut Stanton adalah suatu sistem keseluruhan dari
kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga,
mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan,
baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial (Stanton, 1997). Pengertian
tersebut dapat memberikan gambaran bahwa pemasaran sebagai suatu sistem dari
kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan, ditujukan untuk merencanakan,
menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang/jasa kepada
pembeli secara individual maupun kelompok pembeli. Kegiatan-kegiatan tersebut
beroperasi dalam suatu lingkungan yang dibatasi sumber-sumber dari perusahaan
itu sendiri, peraturan-peraturan, maupun konsekuensi sosial perusahaan.
Pengertian
pemasaran menurut Kotler (2000: 8), pemasaran adalah proses sosial dan
manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan
dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk dengan
pihak lain.
Dalam hal ini
pemasaran merupakan proses pertemuan antara individu dan kelompok dimana
masing-masing pihak ingin mendapatkan apa yang mereka butuhkan/inginkan melalui
tahap menciptakan, menawarkan, dan pertukaran.
Definisi pemasaran tersebut berdasarkan pada prinsip inti yang meliputi: kebutuhan (needs), produk (goods, services and idea), permintaan (demands), nilai, biaya, kepuasan, pertukaran, transaksi, hubungan, dan jaringan, pasar, pemasar, serta prospek.
Definisi pemasaran tersebut berdasarkan pada prinsip inti yang meliputi: kebutuhan (needs), produk (goods, services and idea), permintaan (demands), nilai, biaya, kepuasan, pertukaran, transaksi, hubungan, dan jaringan, pasar, pemasar, serta prospek.
Terdapat dua
faktor yang mempengaruhi cara dan keberhasilan perusahaan terhadap
pemasarannya, yaitu:
1. Lingkungan Eksternal Sistem Pemasaran.
Lingkungan ini tidak dapat dikendalikan perusahaan,
misalnya kebebasan masyarakat dalam menerima atau menolak produk perusahaan,
politik dan peraturan pemerintah, keadaan perekonomian, kependudukan serta
munculnya pesaing
2. Variabel
Internal Sistem Pemasaran.
Variabel ini dapat dikendalikan oleh perusahaan,
terdiri atas dua kelompok, yaitu sumber bukan pemasaran (kemampuan produksi,
keuangan, dan personal) dan komponen-komponen bauran pemasaran yang meliputi:
produk, harga, promosi, dan distribusi (Swastha, 2002).
Perilaku
Konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam
mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa termasuk di dalamnya proses
pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut
(Swastha dkk., 1997).
Perilaku
konsumen mempelajari di mana, dalam kondisi macam apa, dan bagaimana kebiasaan
seseorang membeli produk tertentu dengan merk tertentu. Kesemuanya ini sangat
membantu manajer pemasaran di dalam menyusun kebijaksanaan pemasaran
perusahaan. Proses pengambilan keputusan pembelian suatu barang atau jasa akan
melibatkan berbagai pihak, sesuai dengan peran masing-masing.
Peran yang dilakukan
tersebut adalah:
1. Initiator
Adalah individu yang mempunyai inisiatif pembelian
barang tertentu
2. Influencer
Adalah individu yang berpengaruh terhadap keputusan
pembelian. Informasi mengenai kriteria yang diberikan akan dipertimbangkan baik
secara sengaja atau tidak
3. Decider
Adalah yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak,
apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya
4. Buyer
Adalah individu yang melakukan transaksi pembelian
sesungguhnya
5. User
Adalah individu yang mempergunakan produk atau jasa
yang dibeli.
Banyak faktor
yang mempengaruhi seseorang melakukan pembelian terhadap suatu produk.
Manajemen perlu mempelajari faktor-faktor tersebut agar program pemasarannya
dapat lebih berhasil. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor ekonomi,
psikologis, sosiologis dan antropologis.
Alasan mengapa seseorang membeli produk tertentu atau alasan mengapa membeli pada penjual tertentu akan merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan desain produk, harga, saluran distribusi, dan program promosi yang efektif, serta beberapa aspek lain dari program pemasaran perusahaan.
Alasan mengapa seseorang membeli produk tertentu atau alasan mengapa membeli pada penjual tertentu akan merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan desain produk, harga, saluran distribusi, dan program promosi yang efektif, serta beberapa aspek lain dari program pemasaran perusahaan.
Adapun beberapa
teori perilaku konsumen adalah sebagai berikut:
(1)
Teori Ekonomi Mikro.
Teori ini beranggapan bahwa setiap konsumen akan
berusaha memperoleh kepuasan maksimal. Mereka akan berupaya meneruskan
pembeliannya terhadap suatu produk apabila memperoleh kepuasan dari produk yang
telah dikonsumsinya, di mana kepuasan ini sebanding atau lebih besar dengan
marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk beberapa
produk yang lain;
(2)
Teori Psikologis.
Teori ini mendasarkan diri pada faktor-faktor
psikologis individu yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Bidang
psikologis ini sangat kompleks dalam menganalisa perilaku konsumen, karena
proses mental tidak dapat diamati secara langsung;
(3)
Teori Antropologis.
Teori ini juga menekankan perilaku pembelian dari suatu
kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti kebudayaan,
kelas-kelas sosial dan sebagainya.
Kerangka
Analisis Perilaku Konsumen
Teori perilaku
menyatakan bahwa perilaku adalah fungsi individu dengan lingkungan. Demikian
juga dalam model perilaku konsumen, keadaan lingkungan dan individu yang
bersangkutan memegang peranan penting dalam menentukan perilakunya.
Secara
sederhana Assael (1994 : 14) mengemukakan bahwa ada tiga faktor pokok yang
mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Pertama adalah individu konsumen,
dimana pemilihan produk dan jasa dipengaruhi oleh; kebutuhan, persepsi, dan
sikap terhadap alternatif-alternatif serta demografi konsumen, gaya hidup dan
kepribadian. Kedua adalah faktor lingkungan yang dipelihatkan oleh kebudayaan,
kelas sosial, kelompok referensi dan faktor situasional. Ketiga adalah strategi
pemasaran yang mengawasi konsumen dengan variabel-variabel produk, harga,
promosi, dan distribusi.
Faktor
situasional adalah kondisi sesaat yang muncul pada tempat dan waktu tertentu.
Kemunculanya terpisah dari diri produk maupun konsumen (Assael, 1994 : 527).
Belk (1975 : 158) mendifinisikan situasi sebagai semua faktor yang utama
terhadap tempat dan situasi yang tidak menurut pengetahuan seseorang (intra
individual) dan stimuli (alternatif pilihan) dan memiliki bukti dan pengaruh
sistimatis pada perilaku saat itu. Pengaruh situasional adalah kekuatan sesaat
yang tidak berasal dari dalam diri seseorang atau berasal dari produk atau
merek yang dipasarkan (Wilkie, 1990 : 453). Pengaruh situasional pada konsumen
adalah faktor personal dan lingkungan sementara yang muncul pada aktivitas
konsumen, sehingga situasi konsumen meliputi faktor-faktor seperti melibatkan
waktu dan tempat dalam mana aktivitas konsumen terjadi, mempengaruhi tindakan
konsumen seperti perilaku pembelian, dan tidak termasuk karakteristik personal
yang berlaku dalam jangka panjang. Situasi konsumen relatif merupakan kejadian
jangka pendek dan harus dibedakan dengan lingkungan makro atau faktor-faktor personal
yang memiliki jangka waktu lama. Pengaruh situasional telah menjadi
pertimbangan bagi banyak peneliti perilaku konsumen. Kenyataannya semua
perilaku konsumen mungkin dipengaruhi oleh pengaruh situasional.
Peneliti harus
mampu mengidentifikasi variabel situasional mana yang paling umum mempengaruhi
perilaku konsumen. Problem pemasaran dapat disederhanakan jika fokusnya hanya
diarahkan pada situasi yang paling mempengaruhi pembelian produk. Penelitian
telah menemukan bahwa faktor situasional mempengaruhi pilihan konsumen dengan
mengubah kemungkinan pemilihan berbagai alternatif (Kolm, Monroe, dan Glazer,
1987, dalam Titus dan Ernett, 1996).
Terdapat tiga
jenis situasi berkaitan dengan pemasar yaitu: situasi konsumsi, situasi
pembelian, dan situasi komunikasi (Assael, 1994 : 527). Situasi konsumsi adalah
keadaan dimana merek digunakan. Suatu parfum mungkin digunakan untuk acara
tertentu sedangkan parfum yang lain digunakan untuk sehari-hari. Konsumen
mungkin minum kopi bubuk untuk menjamu tamu dan minum kopi instan untuk menu
sehari-hari. Situasi demikian sebagaian dapat diantisipasi, misalnya akan pergi
kesuatu tempat atau akan kedatangan tamu tertentu. Sebagian yang lain tidak
bisa diantisipasi misalnya tiba-tiba ada tamu yang datang. Keadaan demikian memaksa
konsumen membeli sesuatu secara cepat dan rela membayar lebih karena
keterbatasan waktu untuk berkeliling mencari harga yang murah. Situasi pembelian berkaitan dengan: pertama,
lingkungan di dalam toko seperti ketersediaan produk, perubahan harga, dan
kemudahan belanja yang berkait dengan pilihan berbelanja. Kedua, situasi
pembelian berkaitan dengan apakah produk yang dibeli untuk hadiah atau untuk
dirinya sendiri. Konsumen biasanya mengunakan kriteria yang berbeda dan mungkin
memilih merek yang berbeda jika ia membeli untuk dirinya sendiri. Ketiga,
situasi pembelian berkaitan dengan keadaan mood konsumen ketika berbelaja.
Keadaan senang atau keadaan susah mempengaruhi pemrosesan dan pencarian
informasi tentang produk.
Situasi
Komunikasi adalah keadaan dimana konsumen terbuka untuk informasi baik dari
orang seorang ataupun informasi yang bersifat impersonal. Situasi komunikasi
dapat menentukan apakah konsumen akan mengumumkan, memahami dan menahan
informasi.
Faktor yang
Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Memahami
konsumen dan proeses konsumsinya memberikan berbagai keuntungan antara lain:
membantu manager dalam membuat keputusan, memberikan dasar teoritis bagi
peneliti dalam menganalisa konsumen, membantu legislatif dan pemerintah dalam
menyusun undang-undang dan membuat keputusan, dan membantu konsumen untuk
membuat keputusan yang lebih baik. Lebih dari itu studi tentang konsumen dapat
membantu kita untuk lebih memahami tentang faktor-faktor psikologi, sosiologi,
dan ekonomi yang mempengaruhi perilaku manusia.
Menurut Philip
Kotler dan Gary Armstrong (1996) keputusan pembelian dari pembeli sangat
dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi dari pembeli:
a. Faktor Budaya
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan
dalam pada perilaku konsumen. Perusahaan harus mengetahui peranan yang
dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli. Budaya adalah
penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Budaya
merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang
dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting
lainnya.
Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – subbudaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis: kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering kali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain
Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – subbudaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis: kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering kali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain
b. Faktor Sosial
Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial,
seperti kelompok kecil, keluarga serta peranan dan status sosial konsumen.
Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Kelompok yang
mempunyai pengaruh langsung. Definisi kelompok adalah dua orang atau lebih yang
berinteraksi untuk mencapai sasaran individu atau bersama.Keluarga dapat pempengaruhi
perilaku pembelian. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling
penting dalam masyarakat. Keputusan pembelian keluarga, tergantung pada produk,
iklan dan situasi.Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok selama
hidupnya-keluarga, klub, organisasi. Posisi seseorang dalam setiap kelompok
dapat diidentifikasikan dalam peran dan status. Setiap peran membawa status
yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat.
c. Faktor Pribadi
Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh
karakteristik pribadi seperti umur dan tahapan daur hidup, pekerjaan, situasi
ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli. Konsumsi
seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga. Beberapa penelitian
terakhir telah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam siklus hidup psikologis.
Orang-orang dewasa biasanya mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada
saat mereka menjalani hidupnya. Pekerjaan mempengaruhi barang dan jasa yang
dibelinya. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja
yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu. Situasi
ekonomi seseorang akan mempengaruhi pemilihan produk. Situasi ekonomi seseorang
terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan
polanya), tabungan dan hartanya (termasuk presentase yang mudah dijadikan uang
). Gaya hidup seseorang adalah pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh
kegiatan, minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup menggambarkan “seseorang
secara keseluruhan” yang berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga
mencerminkan sesuatu dibalik kelas sosial seseorang.
Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang
berada dari setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang
relatif konsisten. Kepribadian dapat merupakan suatu variabel yang sangat
berguna dalam menganalisa perilaku konsumen. Bila jenis- jenis kepribadian dapat
diklasifikasikan dan memiliki korelasi yang kuat antara jenis-jenis kepribadian
tersebut dengan berbagai pilihan produk atau merek.
d. Faktor Psikologis
Pemilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut
dipengaruhi oleh empat faktor psikologis, yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan
serta kepercayaan. Motivasi merupakan kebutuhan yang cukup menekan untuk
mengarahkan seseorang mencari cara untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Beberapa
kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan ini timbul dari suatu keadaan fisiologis
tertentu, seperti rasa lapar, rasa haus, rasa tidak nyaman. Sedangkan
kebutuhan-kebutuhan lain bersifat psikogenik yaitu kebutuhan yang timbul dari
keadaan fisologis tertentu, seperti kebutuhan untuk diakui, kebutuhan harga
diri atau kebutuhan diterima. Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana
seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk
menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini.
Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda-beda dari
objek yang sama karena adanya tiga proses persepsi:
1.
Perhatian yang
selektif
2.
Gangguan yang
selektif
3.
Mengingat
kembali yang selektif
Pembelajaran menjelaskan perubahan dalam perilaku
seseorang yang timbul dari pengalaman. Sedang kepercayaan merupakan suatu
pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
e. Faktor Marketing Strategy
Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan
usahanya dalam memberi tahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya
adalah
1.
Barang
2.
Harga
3.
Periklanan dan Distribusi yang mendorong konsumen dalam
proses pengambilan keputusan.
Pemasar harus
mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama pemasaran
dalam pengembangan pemasaran. Pemasar memberikan informasi kepada organisasi
pemasaran mengenai kebutuhan konsumen, persepsi tentang karakteristik merek, dan
sikap terhadap pilihan merek. Strategi pemasaran kemudian dikembangkan dan
diarahkan kepada konsumen. Ketika konsumen telah mengambil keputusan kemudian
evaluasi pembelian masa lalu, digambarkan sebagai umpan balik kepada konsumen
individu. Selama evaluasi, konsumen akan belajar dari pengalaman dan pola
pengumpulan informasi mungkin berubah, evaluasi merek, dan pemilihan merek.
Pengalamn konsumsi secara langsung akan berpengaruh apakah konsumen akan membeli
merek yang sama lagi.
Panah umpan
balik mengarah kembali kepada organisasi pemasaran. Pemasar akan mengiikuti
rensponsi konsumen dalam bentuk saham pasar dan data penjualan. Tetapi
informasi ini tidak menceritakan kepada pemasar tentang mengapa konsumen
membeli atau informasi tentang kekuatan dan kelemahan dari merek pemasar secara
relatif terhadap saingan. Karena itu penelitian pemasaran diperlukan pada tahap
ini untuk menentukan reaksi konsumen terhadap merek dan kecenderungan pembelian
dimasa yang akan datang. Informasi ini mengarahkan pada manajemen untuk
merumuskan kembali strategi pemasaran ke arah pemenuhan kebutuhan konsumen yang
lebih baik.
Keputusan
Pembelian
Keputusan
seorang pembeli juga dipengaruhi oleh ciri-ciri kepribadiannya, termasuk usia,
pekerjaan, keadaan ekonomi. Perilaku konsumen akan menentukan proses
pengambilan keputusan dalam melakukan pembelian.
Menurut Kotler (1997) ada beberapa tahap dalam mengambil suatu keputusan untuk melakukan pembelian, anatara lain:
Menurut Kotler (1997) ada beberapa tahap dalam mengambil suatu keputusan untuk melakukan pembelian, anatara lain:
1. Pengenalan Masalah
Merupakan faktor terpenting dalam melakukan proses
pembelian, dimana pembeli akan mengenali suatu masalah atau kebutuhan.
2. Pencarian
informasi.
Seorang selalu mempunyai minat atau dorongan untuk
mencari informasi. Apabila dorongan tersebut kuat dan obyek yang dapat
memuaskan kebutuhan itu tersedia maka konsumen akan bersedia untuk membelinya.
3. Evaluasi Alternatif
Konsumen akan mempunyai pilihan yang tepat dan membuat
pilihan alternatif secara teliti terhadap produk yang akan dibelinya.
4. Keputusan Pembeli
Setelah konsumen mempunyai evaluasi alternatif maka
konsumen akan membuat keputusan untuk membeli. Penilaian keputusan menyebabkan
konsumen membentuk pilihan merek di antara beberapa merek yang tersedia.
Tipe Proses Pembelian Konsumen
1. Proses “
Complex Decision Making “, terjadi bila keterlibatan kepentingan tinggi pada
pengambilan keputusan yang terjadi. Contoh pengambilan untuk membeli sistem
fotografi elektronik seperti Mavica atau keputusan untuk membeli mobil. Dalam
kasus seperti ini, konsumen secara aktif mencari informasi untuk mengevaluasi
dan mempertimbangkan pilihan beberapa merek dengan menetapkan kriteria tertentu
seperti kemudahan dibawa dan resolusi untuk sistem kamera elektronik, dan untuk
mobil adalah hemat, daya tahan tinggi, dan peralatan. Subjek pengambilan
keputusan yang komplek adalah sangat penting. Konsep perilaku kunci seperti
persepsi, sikap, dan pencarian informasi yang relevan untuk pengembangan
stratergi pemasaran.
2. Proses “ Brand Loyalty “. Ketika pilihan berulang,
konsumen belajar dari pengalaman masa lalu dan membeli merek yang memberikan
kepuasan dengan sedikit atau tidak ada proses pertimbangan dalam pengambilan
keputusan. Contoh pembelian sepatu karet basket merek Nike atau sereal
Kellogg,s Nutrific. Dalam setiap kasus disini pembelian adalah penting untuk
konsumen, sepatu basket karena keterlibatan kepentingan dalam olah raga,
makanan sereal untuk orang dewasa karena kebutuhan nutrisi. Loyalitas merek
muncul dari kepuasan pembelian yang lalu. Sehingga, pencarian informasi dan evaluasi
merek terbatas atau tidak penting keberadaannya dalam konsumen memutuskan
membeli merek yang sama.
Dua tipe yang
lain dari proses pembelian konsumen dimana konsumen tidak terlibat atau
keterlibatan kepentingan yang rendah dengan barangnya adalah tipe pengambilan
keputusan terbatas dan proses inertia.
1. Proses “ Limited Decision Making “
Konsumen kadang-kadang mengambil keputusan walaupun
mereka tidak memiliki keterlibatan kepentingan yang tinggi, mereka hanya
memiliki sedikit pengalaman masa lalu dari produk tersebut. Konsumen membeli
barang mencoba-coba untuk membandingkan terhadap makanan snack yang biasanya
dikonsumsi. Pencarian informasi dan evaluasi terhadap pilihan merek lebih
terbatas dibanding pada proses pengambilan keputusan yang komplek. Pengambilan
keputusan terbatas juga terjadi ketika konsumen mencari variasi. Kepitusan itu
tidak direncanakan, biasanya dilakukan seketika berada dalam toko. Keterlibatan
kepentingan yang rendah, konsumen cenderung akan berganti merek apabila sudah
bosan mencari variasi lain sebagai perilaku pencari variasi akan melakukan
apabila resikonya minimal.
Catatan proses pengambilan keputusan adalah lebih kepada kekhasan konsumen daripada kekhasan barang. Karena itu tingkat keterlibatan kepetingan dan pengambilan keputusan tergantung lebih kepada sikap konsumen terhadap produk daripada karakteristik produk itu sendiri. Seorang konsumen mungkin terlibat kepentingan memilih produk makanan sereal dewasa karena nilai nutrisinya, konsumen lain mungkin lebih menekankan kepada kecantikan dan menggeser merek dalam mencari variasi.
Catatan proses pengambilan keputusan adalah lebih kepada kekhasan konsumen daripada kekhasan barang. Karena itu tingkat keterlibatan kepetingan dan pengambilan keputusan tergantung lebih kepada sikap konsumen terhadap produk daripada karakteristik produk itu sendiri. Seorang konsumen mungkin terlibat kepentingan memilih produk makanan sereal dewasa karena nilai nutrisinya, konsumen lain mungkin lebih menekankan kepada kecantikan dan menggeser merek dalam mencari variasi.
2. Proses “
Inertia “
Tingkat kepentingan dengan barang adalah
rendah dan tidak ada pengambilan keputusan. Inertia berarti konsumen membeli
merek yang sama bukan karena loyal kepada merek tersebut, tetapi karena tidak
ada waktu yang cukup dan ada hambatan untuk mencari alternatif, proses
pencarian informasi pasif terhadap evaluasi dan pemilihan merek. Robertson
berpendapat bahwa dibawah kondisi keterlibatan kepentingan yang rendah “
kesetiaan merek hanya menggambarkan convenience yang melekat dalam perilaku
yang berulang daripada perjanjian untuk membeli merek tersebut” contoh
pembelian sayur dan kertas tisu.
B.
PARADIGMA
RISET KONSUMEN
Para peneliti konsumen periode pertama hanya sedikit memikirkan pengaruh suasana hati (mood), emosi, atau situasi terhadap kepuasan konsumen. Mereka percaya bahwa pemasaran hanya merupakan ilmu ekonomi terapan, dan para konsumen adalah pengambil keputusan yang rasional, yang secara obyektif menilai barang dan jasa yang tersedia bagi mereka dan hanya memilih yang memberikan manfaat (kepuasan) tertinggi dengan harga terendah.
Pada tahun 1939, seorang psikoanalis dari Wina yang bernama Ernest Ditcher mulai memakai teknik psikoanalis Freud untuk menyingkap motivasi yang tersembunyi pada diri konsumen. Pada akhir tahun 1950-an, metodologi risetnya yang disebut riset motivasi pada dasarnya merupakan pendekatan kualitatif, dipakai secara luas oleh para riset konsumen. Para peneliti konsumen sekarang ini menggunakan dua macam metodologiriset yang berbeda untuk mempelajari perilaku konsumen yaitu dengan riset kuantitatif dan riset kualitatif.
RISET KUANTITATIF
Riset kuantitatif bersifat deskriptif dan
digunakan untuk memahami pengaruh berbagai masukan promosi terhadap konsumen, sehingga
memungkinkan para pemasar “meramalkan” perilaku konsumen. Pendekatan riset ini
dikenal sebagai positivisme dan para penelitinya dikenal sebagai positivis.
Metode riset yang digunakan terdiri dari eksperimen, teknik survey, dan
observasi. Hasil-hasilnya bersifat deskriptif, empiris, dan jika diambil secara
acak (dengan menggunakan sampel probabilitas) dapat digeneralisasikan ke
populasi yang lebih besar.
RISET KUALITATIF
Metode riset kualitatif terdiri dari
wawancara yang mendalam, kelompok-kelompok fokus, analisis kiasan, riset
kolase, dan teknik proyeksi. Teknik ini dilakukan melalui analisis pewawncara
yang sangat terlatih dan cenderung bersifat subyektif. Hasil-hasilnya tidak
dapat digeneralisasikan pada populasi yang lebih luas karena jumlah sampelnya
sedikit. Teknik ini biasanya digunakan untuk memperoleh berbagai gagasan baru
untuk kampanye promosi.
MENGGABUNGKAN HASIL-HASIL RISET KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Beberapa pemasar menggunakan gabungan riset kuantitati dan kualitatif untuk membantu membantu mengambil keputusan pemasarantrategis karena terbatasnya hasil riset kualitatif. Hasil riset kualitatif digunakan untuk menemukan berbagai gagasan baru dan untuk mengembangkan strategi promosi, sedangkan hasil riset kuantitatif digunakan untuk meramalkan reaksi konsumen terhadap berbagai input promosi. Gagasan yang berasal dari riset kualitatif terkadang diuji secara empiris dan menjadi dasar bagi perancangan studi kuantitatif. Hasil penggabungan memungkinkan para pemasar untuk merancang berbagai strategi pemasaran yang lebih berarti dan lebih efisien yang bertujuan memperoleh laba maupun nirlaba. Kedunya juga membarikan dasar yang lebih kuat untuk keputusan kebijakan public.
C. PROSES RISET KONSUMEN
MENGGABUNGKAN HASIL-HASIL RISET KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Beberapa pemasar menggunakan gabungan riset kuantitati dan kualitatif untuk membantu membantu mengambil keputusan pemasarantrategis karena terbatasnya hasil riset kualitatif. Hasil riset kualitatif digunakan untuk menemukan berbagai gagasan baru dan untuk mengembangkan strategi promosi, sedangkan hasil riset kuantitatif digunakan untuk meramalkan reaksi konsumen terhadap berbagai input promosi. Gagasan yang berasal dari riset kualitatif terkadang diuji secara empiris dan menjadi dasar bagi perancangan studi kuantitatif. Hasil penggabungan memungkinkan para pemasar untuk merancang berbagai strategi pemasaran yang lebih berarti dan lebih efisien yang bertujuan memperoleh laba maupun nirlaba. Kedunya juga membarikan dasar yang lebih kuat untuk keputusan kebijakan public.
C. PROSES RISET KONSUMEN
Langkah utama dalam proses riset konsumen
meliputi:
1.
Menentukan
tujuan riset
2.
Mengumpulkan
dan mengevaluasi data sekunder
3.
Merancang
studi riset primer
4.
Mengumpulkan
data primer
5.
Menganalisis
data
6.
Mempersiapkan
laporan hasil riset
A.
MENENTUKAN TUJUAN RISET
Langkah
pertama dalam proses riset konsumen adalah menentukan dengan teliti tujuan
studi. Merupakan hal penting bagi manajer pemasaran dan peneliti untuk
menyepakati dari awal maksud dan tujuan studi untuk menjamin agar rancangan
riset itu tepat. Tujuan yang dipertimbangkan secara teliti membantu menemukan
jenis dan mutu informasi yang dibutuhkan.
B. MENGUMPULKAN DAN MENGEVALUASI
DATA SEKUNDER
Informasi
data sekunder adalah setiap data yang pada awalnya dihasilkan untuk tujuan
tertentu yang berbeda dengan tujuan riset sekarang. Informasi ini meliputi
hasil riset yang didasarkan pada penelitian yang dilakukan begbagai organisasi
luar, data yang dihasilkan di dalam untuk studi sebelumnya, dan bahkan
informasi pelanggan yang dikumpulkan oleh bagian penjualan atau bagian kredit
perusahaan.
C. MERANCANG STUDI RISET PRIMER
Pendekatan
untuk tiap-tiap jenis riset berbed dari sudut metode pengumpulan data ,
rancangan sampel, dan macam alat pengumpulan data yang digunakan, sehingga
tiap-tiap pendekatan riset dibahas secara terpisah.
Rancangan
studi riset kuantitatif meliputi metode pengumpulan data, rancangan sampel, dan
pembuatan alat pengumpulan data (misalnya kuesioner).
- Metode Pengumpulan Data
Ada tiga
cara pokok untuk mengumpulkan data:
1.
Penelitian
Observasi, merupakan
metode riset konsumen yang penting, untuk memperoleh pemahaman yang mendalam
mengenai hubungan antara orang dan produk dengan memperhatikan mereka selama
proses membeli dan menggunakan produk. Penelitian observasi juga dipakai secara
luas untuk memahami proses pembelian dan konsumsi.
2.
Eksperimentasi,
Eksperimen
terkontrol menjamin bahwa setiap perbedaan hasil peubah tak bebas (dependent
variable) disebabkan oleh perlakuan yang berbeda terhadap variable yang sedang
dipelajari dan bukan oleh faktor-faktor luar.
3.
Survei, dapat dilakukan melalui
beberapa cara antara lain: (a) Survei wawancara perorangan, (b) Survei melalui
telepon, (c) Survei melalui pos.
- Instrument Pengumpulan Data
Instrumen
pengumpulan data meliputi kuesioner, daftar pertanyaan pandangan pribadi, skala
sikap dan untuk data kualitatif, pedoman diskusi. Instrumen pengumpulan data
biasanya diuji terlebih dahulu dan di “debugged” untuk menjamin validitas dan
realibilitas suatu riset. Studi dikatakan mempunyai validitas jika benar-benar
mengumpulkan datayang tepat dan dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan atau
tujuan yang dinyatakan pada tahap pertama dalam proses riset. Studi dikatakan
mempunyai reliabilitas jika pertanyaan sama, yang dinyatakan kepada sampel yang
serupa, menghasilkan kesimpulan yang sama.
Dalam
memilih format riset yang tepat untuk studi kualitatif, maka harus
dipertimbangkan tujuan studi dan jenis data yang diperlukan. Metode riset yang digunakan
mungkin berbeda komposisinya, tetapi semuanya mempunyai akar dari psikoanalitis
dan aspek klinis ilmu psikologi, dan menekankan pada tipe pertanyaan terbuka
dan jawaban bebas.
- Metode Pengumpulan Data
Pilihan
teknik pengumpulan data untuk studi kualitatif meliputi wawancara yang
mendalam, kelompok fokus, teknik proyeksi, dan analisi kiasan.
- Penentuan Sampel
Sebuah
komponen terpadu dalam rancangan riset adalah rencana penentuan sampel. Jumlah
sampel tergantung pada besarnya anggaran maupun tingkat kepercayaan yang
diinginkan pelaku pasar dari hasil risetnya. Semakin banyak sampel, semakin
besar kemungkinan jawaban akan mencerminkan keseluruhan populasi yang sedang
dipelajari. Jika semua hasil riset dapat diproyeksikan ke keseluruhan populasi,
maka harus dipilih sampel probabilitas. Namun, jika dianggap sudah memadai
(bersifat mewakili), maka sampel nonprobabilitas dapat dipilih.
D. PENGUMPULAN DATA PRIMER
Studi
kualitatif biasanya memerlukan para pakar ilmu pengetahuan sosial yang sangat
terlatih untuk mengumpulkan data. Studi kuantitatif biasanya memerlukan staf
lapangan yang dipekerjakan dan dilatih langsung oleh peneliti dalam melakukan
wawancara di lapangan. Semua kuesioner yang sudah diisi di tinjau secara
teratur ketika studi riset berlangsung untuk memastikan bahwa jawaban yang
tercatat jelas, lengkap, dan dapat dibaca.
E. ANALISIS DATA
E. ANALISIS DATA
Pada riset
kualitatif, moderator atau pelaksana tes biasanya menganalisis semua jawaban
yang diterima. Pada riset kuantitatif , peneliti mengawasi analisis tersebut.
Semua jawaban terbuka diubah menjadi kode dan diukur (skor numeric), kemudian
ditabulasikan dan dianalisis dengan menggunakan program yang menghubungkan data
menurut berbagai variable yang dipilih dan mengelompokkan data menurut
demografis yang dipilih.
F. PERSIAPAN LAPORAN HASIL RISET
Pada riset
kualitatif maupun kuantitatif, laporan riset memuat juga kesimpulan singkat
mengenai hasil-hasil riset. Isi laporan memuat uraian lengkap mengenai
metodologi yang digunakan, untuk riset kuantitatif juga memuat berbagai table
dan grafik untuk mendukung hasil risetnya. Dalam merancang studi riset, para
peneliti menyesuaikan proses riset dengan kebutuhan khusus dari penelitian.
D.
ETIKA DALAM RISET KONSUMEN
Etika , Norma atau
standar perilaku yang memandu pilihan moral mengenai hubungan kita dengan orang
lain, Etika penelitian ini berkaitan erat dengan hak-hak dari berbagai pihak
seperti masyarakat, subjek, klien, dan peneliti
1.
Sikap Positif
(tetap berkonstribusi)
2.
Sikap Bertanya
(untuk mengetahui sesuatu)
3.
Sikap Sangsi
(sikap tidak langsung menerima hal-hal yang dirasa masih meragukan)
Aspek
moral dan etika dalam berbisnis, khususnya pada yang berlandaskan analisis
ilmiah bias saja dijungkirbalikan oleh mereka yang berfikiran sempit dan
pendek, sehingga tidak obyektif. Hasilnya menjadi sebuah bom waktu yang setiap
saat bias meledak dan menghancurkan tidak hanya orang-orang yang terkait dalam bisnis itu, tetapi secara
marko ekomoni akan melemahkan ekomoni nasional dan membuat masyarakat luas
menjadi menderita .
Jadi etika riset seharusnya tidak
hanya disadari dan diketahui,tetapi harus menyentuh juga tahap action. Sebagaimana aspek-aspek lain dalam
bisnis,riset pun mengharapkan perilaku etis dari para pelakunya yang mengacu
kepada norma-norma atau standar-standar moral pribadi dan dengan orang lain
agardipastikan bahwa tak seorang pun dirugikan.
KESIMPULAN
Riset konsumen berkembang sebagai perluasan bidang riset pemasaran
untuk memungkinkan para pemasar meramalkan bagaimana konsumen akan bereaksi di
pasar dan memahami alasan-alasan mereka dalam mengambil keputusan untuk
membeli. Hasil-hasil riset pasar dan riset konsumen digunakan untuk memperbaiki
pengambilan keputusan manajerial. Perilaku
konsumen memiliki kepentingan khusus bagi orang karena berbagai alasan
berhasrat mempengaruhi atau mengubah perilaku itu, termasuk mereka yang
kepentingan utamanya adalah pemasaran, pendidikan, dan perlindungan konsumen,
serta kebijakan umum.
Dalam hal ini pemasaran merupakan proses pertemuan
antara individu dan kelompok dimana masing-masing pihak ingin mendapatkan apa
yang mereka butuhkan/inginkan melalui tahap menciptakan, menawarkan, dan
pertukaran.Definisi pemasaran tersebut berdasarkan pada prinsip inti yang
meliputi: kebutuhan (needs), produk (goods, services and idea), permintaan
(demands), nilai, biaya, kepuasan, pertukaran, transaksi, hubungan, dan
jaringan, pasar, pemasar, serta prospek.
Beberapa
pemasar menggunakan gabungan riset kuantitatif dan kualitatif untuk membantu
membantu mengambil keputusan pemasaran strategis karena terbatasnya hasil riset
kualitatif. Hasil riset kualitatif digunakan untuk menemukan berbagai gagasan
baru dan untuk mengembangkan strategi promosi, sedangkan hasil riset
kuantitatif digunakan untuk meramalkan reaksi konsumen terhadap berbagai input
promosi. Gagasan yang berasal dari riset kualitatif terkadang diuji secara
empiris dan menjadi dasar bagi perancangan studi kuantitatif. Hasil
penggabungan memungkinkan para pemasar untuk merancang berbagai strategi
pemasaran yang lebih berarti dan lebih efisien yang bertujuan memperoleh laba
maupun nirlaba. Kedunya juga membarikan dasar yang lebih kuat untuk keputusan
kebijakan public.
SARAN
Menurut
kelompok kami, riset konsumen sangatlah penting. Karena dengan adanya riset
terseebut kita dapat mengetahui setiap konsumen yang berbeda-beda kesukaan atau
minat dan keinginannya dalam memenuhi kebutuhan mereka. Riset konsumen itu
memungkinkan para konsumen mengambil keputusan untuk membeli, dan emaahami cara
mereka berinteraksi untuk membeli. Untuk itu sebagai pemasar harus bisa
mepengaruhi konsuen untuk mengambil keputusan membeli suatu produk yang dipasarkan
atau ditawarkan.
Riset
Kuantitalif dan kualitatif berpengaruh positif terhadap riset konsumen. Karena
2 riset tersebut dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh setiap konsumen.
Tetapi riset kuantitalif dan kualitatif ada kekurangannya. Seperti kuantitatif misalnya dengan dia salah maka keinginan yang
konsumen mau juga salah, kalau kualitatif riset ini memerlukan wawancara
langsung kepada konsumen, kalau dia tidak melakukan wawancara maka dia tidak akan
tau apa keinginan konsumen.
Sumber: