Rabu, 26 Desember 2012

PERILAKU KONSUMEN (SOFTSKILL)


TUGAS
PERILAKU KONSUMEN
TENTANG
PERILAKU KONSUMEN LINTAS BUDAYA
PERSPEKTIF INTERNASIONAL

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4
·     DELVIRA PUSPITASARI / 11210774
·     DENNY NURAHMAN / 19210114
·     DEWI KOMALASARI / 19210117
·     ELLYANA UTAMI / 19210379
·     FADDILAH MUHAMMAD ADAM / 12210471
·     FINITA GIAN ANGGARINI / 12210787
·     FLOURENZHA C.P / 12210862
·     NORMAN ARIOWIBOWO / 15210036
·     OCTAVIANTHI / 18210159
·     SUHARTINI UMI KJH / 16210718
KELAS : 3 EA 07

UNIVERSITAS GUNADARMA
PTA 2012/2013
PERILAKU KONSUMEN LINTAS BUDAYA
PERSPEKTIF INTERNASIONAL

A.    PENTINGNYA MENJADI MULTINASIONAL

Hari ini hampir semua perusahaan utama secara aktif memasarkan produk mereka keluar dari negara asalnya. Banyak perusahaan mengembangkan strategi untuk mengmbil keuntungan dari peluang ekonomi yang muncul. Perusahaan –perusahaan yang menjual produknya ke berbagai negara dengan berbagai alasan. Sejumlah besar perusahaan sekarang berusaha merebut market share dipasar asing. Contohnya Starbucks telah membuka toko di Jakarta Indonesia.
1.      Memperoleh pengetahuan budaya lainnya.
Banyak dan lebih banyak konsumen termasuk berhubungan dengan material barang atau gaya hidup untuk kehidupan masyarakat di bagian dunia yang lain, mereka mempunyai peluang untuk mengadopsi praktek dan produk berbeda ini. Bagaimana konsumen pada sebuah budaya menjamin mendapatkan barang untuk kehidupan masyarakat lainnya pada budaya lain adalah sebuah bagian penting dari perilaku konsumen. Banyak konsumen mau menerima budaya lain yang sangat berbeda dari budaya dinegara mereka.
2.      Pengaruh negara asal.
Ketika konsumen membuat keputusan pembelian, mereka mungkin mengambil dengan pertimbangan negara asal untuk pilihan mereka. Para peneliti telah menunjukan bahwa konsumen menggunakan pengetahuan mereka untuk produk mana yang dibuat dalam evaluasi produk pilihan mereka.
3.      Apakah identitas nasional.
Sebuah jalan untuk menerangkan mengapa konsumen lebih suka membeli produk buatan sebuah negara dan tidak berharap membeli produk negara lainnya, atau mengapa konsumen dinegara berbeda menunjukan perilaku berbeda merupakan adanya sebuah identitas nasional.

Faktor-faktor yang mendorong bisnis global meliputi:
1.      Merket driver, aspek perilaku konsumen, saluran distribusi dan sifat pemasaran bisnis. Perubahan dalam market driver adalah:
a.       Pendapatan perkapita
b.      Perubahan gaya hidup
c.       Arus wisatawan mancanegara yang semakin meningkat
d.      Mulainya perilaku organisasi yang seperti pelanggan global
e.       Pertubuhan saluran distribusi yang semakin menglobal
f.       Berkembangnya merek global
2.      Cost driver, aspek ekonomi dunia bisnis dan terdapat beberapa perubahan yang terjadi dala cost driver, yaitu:
a.       Tekanan untuk mencapai skala ekonomi
b.      Inovasi teknologi yang semakin cepat
c.       Kemajuan transportasi
d.      Munculnya NIC (Newly Industry Countries)
e.       Peningkatan biaya pengembangan terhadap produk dipasar
3.      Govemment driver, tindakan atau kebijakan pemerintah, meliputi:
a.       Pengurangan hambatan tarif
b.      Pengurangan hambatan non tariff
c.       Pembentukan blok perdagangan seperti pasar tunggal eropa, AFTA.
d.      Berkurangnya peran pemerintah produsen dan pelanggan
4.      Competitive driver, tindakan pesaing sehubungan dengan perubahan yang terjadi, meliputi:
a.       Tingkat perdagangan dunia yang semakin meningkat
b.      Semakin banyak negara yang membuka kunci persaingan, munculnya jepang sebagai pemimpin.
c.       Perusahaan yang dimiliki asing semakin meningkat
d.      Munculnya pesaing baru yang menjadi pesaing global
e.       Tersebarnya fasilitas produksi di berbagai negara
f.       Meningkatnya aliansi strategi global.

Jenis-jenis organisasi lintas budaya:
1.      Internasional organisasi
Organisasi bisnis yang beroperasi diluar negeri sebagai bagian dari bisnis dari kantor pusat yang ada di dalam negeri. Kebijakan pemasaran untuk melayani customer secara domestic dan keudian menawarkan marketing mix yang sama kenegara lainnya.
2.      Organisasi multinasional
Organisasi bisnis yang mempunyai kegiatan diluar negeri yang merupakan sebuah portofolio bisnis independen. Kebijakan untuk melayani pelanggan didesain secara individual dimasing-masing negara.
3.      Organisasi global
      Organisasi bisnis dengan kegiatan bisnis diluar negeri sebagai feeder atau saluran pengangkut ke pasar global. Kebijakannya adalah untuk melayani sebuah pasar global dengan sebuah marketing mix tunggal dengan ciri-ciri pembuatan keputusan yang tersentralisasi.
4.      Organisasi trans nasional
Organisasi yang menangani kegiatan diluar negeri sebagai sebuah proses yang komplek untuk koordinasi dan kerjasama. Lingkungan yang ditangani sebagai sebuah pembuatan keputusan yang merupakan bagian dari cara berpartisipasi. Kebijakan untuk melayani lingkungan bisnis global menggunakan sumber daya global yang fleksibel dengan formulasi marketing mix global berbeda.

Terdapat dua subjek penting dalam saluran pemasaran internasional, yaitu:
a.       Strategi memasuki pasar
Terdapat tiga cara untuk masuk kenegara lain:
·         Ekspor
·         Transfer teknologi dan kehlian dibutuhkan untuk memproduksi dan memasarkan barang ke perusahaan-perusahaan di negara lain melalui perjanjian kontrak
·         Investasi langsung
b.      Alternatif saluran
Dua alternatif saluran internasional utama yang tersedia bagi produsen domestic, yaitu:
·         Perantara domestic, perantara yang mempunyai pengetahuan tentang pasar luar negeri dan berkemampuan menyediakan jenis perwakilan local yang ditawarkan perantara asing.
·         Perantara asing, perusahaan membuat kesepakatan langsung dengan perantara asing. Cara ini lebih memperpendek saluran dan membuat pabrikan lebih dekat ke pasar. Masalah utamanya adalah bahwa perantara asing jauh lokasinya sehingga sulit diawasi ke timbang perantara domestic.

B.     ANALISIS KONSUMEN LINTAS BUDAYA

Analisis konsumen secara lintas budaya ini adalah usaha untuk menentukan derajat persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih negara. Analisis tersebut dapat menyediakan pemahaman terhadap karakteristik psikologis, sosial, dan budaya konsumen yang menjadi target bagi pelaku pasar, sehingga mereka dapat mendesain strategi pemasaran yang efektif. Analisis konsumen lintas budaya banyak dilakukan dengan semakin maraknya globalisasi, antara lain untuk mengetahui apa kesamaan dan perbedaan antara dua atau lebih budaya. Sehubungan dengan kesamaan standarisasi produk lebih dimungkinkan, sedangkan perbedaan selera dan pilihan produk anatara konsumen lintas budaya mengharuskan pemasar mencari cara beradaptasi supaya produknya diterima dinegara sasaran. Ada kemungkinan standarisasi produk diikuti dengan cara-cara berbisnis dan pemasaran yang berbeda antara negara yang satu dengan negara yang lainnya. Banyak ahli beranggapan bahwa dalam pemasaran global, akulturasi sangat dibutuhkan. Dan akulturasi harus dilakukan oleh pemasar terhadap budayalokal dan sebaliknya agar produk bisa diteria dipasar sasaran konsumen juga harus dipengaruhi untuk menerima nilai-nilai baru.

1.      Kesamaan dan perbedaan antara masyarakat
Pemahaman mengenai persamaan dan perbedaan yang ada pada negara – negara sangat penting bagi pelaku pasar multinasional yang harus menyusun strategi yang tepat untuk meraih konsumen di suatu negara yang spesifik. Semakin banyak persamaan antara satu negara dengan negara lain, maka pelaku pasar juga cenderung memakai strategi pemasaran yang hampir sama. Sedangkan jika kepercayaan, nilai, dan adat istiadat dari target negara – negara jauh berbeda; maka strategi pemasaran yang lebih spesifik diterapkan. Produk yang sama dapat mempunyai makna yang berbeda di tiap negara. Misalnya strategi pemasaran di Indonesia yang berbudaya kolektif, dengan extended family, dan masih menjunjung adat istiadat akan berbeda dengan strategi pemasaran di Amerika Serikat yang berbudaya individualis, dengannuclear family, dan terbuka terhadap perubahan. Peraturan dan kebijakan yang berbeda menuntut pelaku pasar untuk berhati – hati dalam mendesain suatu strategi.
Perspektif pemasaran global menekankan kesamaan konsumen diseluruh dunia dan merupakan lawan dari strategi pasar local yang menekan perbedaan konsumen pada bangsa-bangsa yang berbeda beserta orientasi budaya spesifik mereka. Nilai-nilai pada beberapa negara dapat berbeda dan memiliki keunikan antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya iklan perusahaan jepang cendrung mempunyai komitmen yang kuat pada kelompok, ketergantungan secara social dan kolektivism (bekerja sama antara yang satu dengan yang lainnya) sedangkan iklan Amerika cendrung pada sikap individualisme, kurang tergantung secara social (bekerja mandiri), menerima ketidakpastian sebagai suatu hal yang biasa dan lebih suka bersaing untuk menjadi yang terbaik. Jika masuk  pasar multinasional  para pemasar harus siap menyesuaikan bauran pemasaran mereka dengan kebiasaan khusus setiap bangsa yang menjadi pasar sasaran.

2.   Pertumbuhan kelas menengah global
      Pertumbuhan kelas menengah di negara berkembang adalah sebuah fenomena sangat menarik bagi pemasar yang seringkali ingin mengidentifikasi pelanggan baru produk mereka. Di Cina pendapatan $1,500 adalah kelas menengah yang menjadi pertimbangan kekuatan membeli dan merupakan sebuat target televise dan computer. Pada bagian lain pendapatan setara $5,000 menjadi point pertimbangan dimana seseorang menjadi kelas menengah dan telah diperkirakan lebih dari 1 Milyar masyarakat yang berada dinegara berkembang memenuhi standar ini. Ini penting untuk catatan lebih dahulu bahwa konsumen pada beberapa negara kuarang maju sering tidak bisa menghasilkan pembayaran sebanyak sebuah produk seperti konsumen pada ekonomi yang lebih maju lakukan.

3.   Akulturasi merupakan sebuah kebutuhan sudut pandang pemasaran.
Banyak pelaku pasar bermaksud melakukan perluasan internasional dengan melakukan strategi yang salah dengan percaya bila sebuah produk disukai oleh konsumen local atau domestik, kemudian semua orang akan menyukainya. Sudut pandang yang bias ini meningkatkan kemungkinan kegagalan penjualan jadi menyebar. Untuk mengatasi pandangan yang sempit dan myopic culturally, pelaku pasar harus melakukan acculturation process. Mereka harus mempelajari yang relevan tentang kegunaan dan penggunaan potensial produk mereka di negara-negara asing yang menjadi target pemasaran.
Akulturasi lintas budaya adalah proses ganda (dual process) untuk penjual. Pertama, penjual harus mengenalkan dengan seksama diri mereka nilai-nilai (values), kepercayaan (beliefs), dan adat istiadat (customs) dari masyarakat yang baru untuk posisi dan pasar yang tepat bagi produk mereka. Kedua, untuk mendapatkan penerimaan bagi produk baru di masyarakat asing, mereka harus mengembangkan satu strategi yang mendorong anggota masyarakat untuk merubah atau memecahkan tradisi mereka sendiri.
      Banyak pemasar merenungkan ekspansi internasional membuat kesalahan stategi percya bahwa jika produknya disukai oleh coonsumen local atau domestic selanjutnya seseorang akan menyukainya.

4.   Teknik mengadakan penelitian.
      Dalam Lintas Budaya, beban bertambah terjadi karena bahasa dan penggunaan kata-kata seringkali berbeda dari satu negara ke negara lain. Masalah lain pada penelitian perdagangan internasional menekankan pada skala pengukuran.  Di USA, 5 atau 7 poin skala mungkin sesuai, tetapi di negara lain, 10 atau bahkan 20 poin skala, mungkin dibutuhkan. Lebih jauh lagi, fasilitas penelitian pelayanan lewat telepon, tersedia atau tidak tersedia di negara-negara atau wilayah tertentu di dunia. Untuk menghindari masalah pengukuran penelitian, para peneliti konsumen harus membiasakan diri mereka dengan keterbatasan pelayanan penelitian di negara-negara yang mereka evaluasi sebagai pasar yang potensial dan harus mempelajari bagaimana mendesain penelitian penjualan yang akan menghasilkan data yang berguna. Peneliti harus ingat bahwa perbedaan budaya dapat membuat metodologi penelitian yang “standar” menjadi tidak sesuai. Walaupun teknik dasar penelitian yang sama digunakan mempelajari konsumen domestic bermanfaat untuk mempelajari konsumen di negera asing, pada analisis lintas budaya sebuah beban tambahan ada telah diperdebatkan karena bahasa dan penggunaan kata yang sering berbeda dari negara ke negara.

C.    ALTERNATIF STRATEGI MULTINASIONAL : GLOBAL VS LOKAL

Beberapa penjual berpendapat bahwa dunia pasar menjadi makin dan semakin mirip dan dibakukannya standar penjualan, oleh karena itu, menjadi makin dapat dikerjakan dengan mudah. Contohnya : Mobil Exxon telah mengeluarkan 150 juta dolar untuk mempromosikan produknya, dan perusahaan menginginkan semua advertisement untuk memiliki pandangan dan perasaan yang sama., tanpa memperhatikan dimana 100 negara di dunia advertisement itu akan muncul. Jelasnya, penjual lain merasa perbedaan antara konsumen dari berbagai negara adalah terlalu jauh untuk mengijinkan strategi penjualan yang baku. Dalam prakteknya, tantangan dasar untuk banyak eksekutif yang merenungkan penjualan multinasional adalah untuk memutuskan apakah menggunakan pembagian kebutuhan dan nilai-nilai (shared needs and values) sebagai strategi segmentasi atau menggunakan rintangan nasional (national borders) sebagai strategi segmentasi

1.      Keuntungan sebuah merek dunia
Beberapa perusahaan telah menciptakan produk ber-merk dunia yang dihasilkan, dikemas, dan diposisikan dengan cara yang sama tanpa menghiraukan negara di mana produk itu dijual. Penjual produk-produk dengan pasar yang luas menggunakan sebuah world branding strategy. Contohnya ; Gilette, Estee Lauder, Unilever, dan Flat, juga menggunakan periklanan global untuk bermacam-macam produk dan pelayanan.
Sebuah peningkatan julah perusahaan telah membentuk merek dunia produk yang di produksi, dikemas dan diposisi persis sama jalannya tanpa memperhatikan negara dimana mereka dijual.
      Faktor-faktor khusus yang mempengaruhi dalam menetapkan nama merek yang berkualitas:
a. Nama yang berbeda dari yang ditawarkan pesaing.
b.Keterangan, attribute dan keuntungan nama.
c. Mencapai produk yang cocok dengan kebutuhan konsumen dan brand image yang diinginkan dengan desain dan kemasan produk.
d.      Bisa di ingat dan mudah pengucapkan dan penulisannya.

2.      Apakah perbedaan merek global
Sebuah brand merupakan penandaan unik dari sebuah perusahaan atau merek dagang yang membedakannya dengan penawaran dari kategori produk lain yang masuk. Nama merek yang baik bisa membangkitkan perasaan percaya, keamanan, kekuatan, daya tahan, kecepatan, status dan lain-lain.
      Pemilihan nama untuk sebuah merek adalah untuk:
a. Mempengaruhi kecepatan konsumen dalam peilihan nama untuk sebuah merek.
b.Mempengaruhi image merek
c. Juga memainkan peranan utama pada formasi brand equity.
Merek global dipandang sangat berbeda dari merek local dan konsumen, worldwide, menghubungkan merek global dengan tiga karakteristik: tanda kualitas, mitos global dan tanggung jawab social.
a. Pertama, konsumen percaya bahwa lebih banyak masyarakat yang embeli sebuah merek dengan kualitas lebih tinggi, selanjutnya konsumen worldwide mempercayai bahwa merek global mengembangkan produk baru dan penemuan teknologi selangkah lebih cepat dari merek local.
b.Kedua, mitos global mengenai konsumen memandang merek global sebagai sejenis budaya ideal, mereka membeli dan menggunakan membuat konsumen merasakan seperti seorang warga negara dunia dan member identitas mereka.
c. Terakhir, perusahaan global memegang tingkat tanggung jawab social yang lebih tinggi dari perusahaan local yang diharapkan.

3.      Reaksi multinasional pada merek luar.
Karena sebuah merek menjadi global dalam karakter tidak bermaksud bahwa konsumen diseluruh dunia akan memberikan respon yang saa pada sebuah merek luar. Dalam penelitian menunjukkan bahwa orang timur berfikir dengan jalan holistic yang memfokuskan perhatiannya pada hubungan antara objek sedangkan orang barat yang berfikir analitik dengan memfokuskan perhatiannya pada atribut atau bagian-bagian objek dan pada kategori pilihan akan mempengaruhi cara penilaian konsuen menetapkan merek luar.

4.      Pemasaran global yang adaptif
Dalam membedakan strategi komunikasi pemasaran yang menekankan pada pesan umum, beberapa perusahaan melakukan strategi yang menyesuaikan iklan mereka dengan nilai-nilai khusus kebudayaan. Mc Donald’s adalah contoh perusahaan yang mencoba untuk melokalisir iklannya di tiap pasar yang mempunyai kebudayaan yang berbeda, dengan cara membuat perusahaan “glocal”. Contohnya, Ronald McDonald telah berganti nama menjadi Donald McDonald di Jepang karena bahasa Jepang tidak mengandung bunyi “R”. Sebagai tambahan, menu McDonald di Jepang telah dilokalisir dengan memasukkan menu sup jagung dan milkshake teh hijau. Di Swedia McDonald’s mengembangkan bungkus baru menggunakan ilustrasi dengan ukiran kayu dan desain yang lembut untuk menarik minat konsumen di negara itu dimana orang di negara itu memiliki cita rasa yang tinggi terhadap makanan dan menyukai kegiatan di luar ruangan. Beberapa perusahaan menggunakan beberapa kombinasi strategi. Misalnya, Unilever, Playtex dan Black & Decker telah menambah strategi global mereka dengan mengesahkan produk mereka secara lokal. Dalam mengambil pendekatan yang adaptif, pembuat iklan global dengan pengetahuan tentang perbedaan kebudayaan dapat membuat pesan tambahan yang efektif untuk menyesuaikan dengan pemasaran lokal. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh advertiser asing di China menemukan bahwa 11 persen perusahaan menggunakan global strategi, 12 persen menggunakan lokal strategi dan hampir 77 persen menggunakan strategi kombinasi. Dari 7 komponen periklanan yang telah dipelajari, bahasa lokal untuk memadukan dengan budaya lokal telah disadari sebagai hal yang paling penting, hal penting lainnya ialah atribut produk lokal, model, warna iklan, humor,background pemandangan, dan musik.

5.      Kerangka untuk menilai strategi multinasional
Pemasaran multinasional tengah menghadapi tantangan untuk membuat program pemasaran dan periklanan yang mampu berkomunikasi secara efektif dengan beberapa target pemasaran yang beranekaragam. Untuk membantu penyelesaian tugas tersebut, bermacam-macam kerangka telah dikembangkan untuk menentukan apakah pemasaran dan periklanan akan menggunakan strategi global ataukah lokal.
Tabel dibawah ini (14 -5) menunjukkan 5 tahapan yang berkesinambungan mulai dari munculnya kesadaran tentang suatu merek asing di suatu area pasar lokal sampai pada identifikasi global secara lengkap terhadap merek tersebut dengan demikian merek diterima sebagai (as is) di hampir semua pasar dan konsumen tidak berpikir dari mana asal negaranya.

TABEL 14 – 5.  Kontinuitas Rekognisi Suatu Produk untuk Pemasaran Multinasional
FAKTOR
CONTOH
Tingkat 1
Konsumen lokal mendengar atau membaca satu merek terkenal di suatu tempat tetapi tidak dapat memperolehnya di rumah, merek itu aneh dan tidak tersedia tetapi bisa menjadi suatu dorongan, contohnya Rokok Havana (buatan Kuba).
Tingkat 2
Konsumen lokal melihat satu merek yang dibuat di tempat lain sebagai sesuatu yang asing. Produk itu dibuat di suatu negara bagian tetapi tersedia secara lokal. Contohnya seperti Anggur Prancis. Kenyataan bahwa merek itu adalah suatu merek asing menimbulkan suatu perbedaan pemikiran pada konsumen, kadang-kadang disukai dan kadang-kadang tidak disukai
Tingkat 3
Konsumen lokal menyampaikan suatu merek yang diimpor sebagai status kebangsaan yaitu dari negara mana produk itu berasal telah diketahui tetapi tidak mempengaruhi pilihan mereka, misalnya bir Molson dari Amerika Serikat
Tingkat 4
Merek dimiliki oleh suatu perusahaan asing secara domestik dan kemudian diterima oleh konsumen lokal sebagai suatu merek lokal, asal usul dari mana produk itu mungkin diingat tetapi merek itu telah diadopsi, contohnya merek Sony di Amerika Serikat, Coca Cola di Eropa dan Jepang
Tingkat 5
Merek sudah kehilangan identitas nasional dan konsumen dimanapun melihat itu sebagai sesuatu yang tanpa batas atau global, konsumen tidak lagi dapat mengindentifikasi dari mana merek itu berasal dan tidak pernah mempedulikan hal itu, contoh kantor berita CNN, Nescafe.

Tabel 14-6 menunjukkan suatu kerangka kerja yang menunjukkan pada 4 strategi pemasaran yang tersedia untuk suatu perusahaan yang mempunyai tujuan untuk menjalankan bisnis yang berbasis global. Suatu perusahaan mungkin akan menetapkan apakah produknya itu adalah produk yang terstandar atau produk lokal dan program mengkomunikasikannya itu terstandar atau lokal (matrik 2 x 2). Di tengah-tengah ada dua strategi campuran, semua empat sel dapat merepresentasikan pertumbuhan kesempatan bagi perusahaan. Untuk menenentukan sel yang mana yang merupakan strategi yang baik bagi perusahaan, pemasar harus melakukan analisis konsumen lintas budaya untuk mencapai atau mendapatkan reaksi konsumen bagi penetapan produknya maupun promosinya sebagai gambaran pentingnya strategi produk satu bentuk, contohnya seperti Frito-Lay di Amerika dengan bentuk Snack Food Giant. Hal tersebut sudah memiliki standar kualitas dan mengurangi berbagai merek lokal yang dinamai perusahaan potato chip yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Usaha ini menggerakkan perusahaan suatu penampilan visual secara umum bahwa gambar logo Lay adalah sebagai suatu merek global. Usaha ini didorong oleh penelitian yang menunjukkan bahwa potato chip adalah sebuah makanan ringan yang sudah tersebar di seluruh dunia.
TABEL 14 – 6.  Kerangka untuk alternatif strategi pemasaran global
STRATEGI PRODUK
STRATEGI KOMUNIKASI
Komunikasi standarisasi
Komunikasi lokal
Produk standarisasi
Strategi global:
Keseragaman produk atau Keseragaman iklan
Strategi campuran:
Keseragaman produk/ iklan umum
Produk lokal
Strategi campuran:
Produk umum / iklan yang seragam
Strategi lokal:
Produk umum/ iklan umum

Orientasi lain untuk mengukur apakah penggunaan strategi pemasaran lokal atau pemasaran global dipusatkan pada kontinum teknologi tinggi sampai pada sentuhan tinggi (high-tech or high-touch). Standarisasi produk nampak paling sukses bagi produk-produk yang memiliki keterlibatan tinggi yang menggunakan pendekatan baik pada kontinum high-tech dan high-touch dengan kata lain produk-produk yang berada pada ekstrim high-tech dan high-touchlebih cocok ditempatkan sebagai satu merek dan promosi global. Sebaliknya produk-produk dengan keterlibatan rendah di dalam kontinum high-tech dan high-touch lebih cocok di pasarkan sebagai merek lokal menggunakan keputusan pasar oleh pasar. Sebagai gambaran pada suatu basis mendunia konsumen tertarik dalam keterlibatan yang tinggi dan produk dengan teknologi tinggi dibagi sebagai satu bahasa umum seperti contohnya “bytes” dan “microprocessors” sedangkan iklan untuk produk-produk dengan sentuhan tinggi cenderung untuk menggunakan lebih banyak penampilan emosional dan menekankan imej visual.
Beberapa peneliti telah menuliskan bahwa globalisasi (standarisasi) dan lokalisasi harus dipandang sebagai dua akhir dari suatu kontinum dan kadang kunci dari kesusksesan itu adalah “be global but to act local”.  Ketika mencari kesusksesan di sebuah pasar asing telah disarankan bahwa satu perusahaan harus ingat 3 P (Place, People, Product). Tabel 14-7 menunjukkan elemen khusus dari  3P tersebut dan menyebutkan strategi pemasaran yang tepat kapan perusahaan menggunakan pendekatan strandarisasi dan kapan menggunakan pendekatan lokal. Ketika pemasaran produk high-tech itu meluas maka penting untuk dicatat bahwa banyak negara-negara industri tertinggal di belakang Amerika Serikat dalam penggunaan komputer, contohnya meskipun lebih dari 90% pekerja manajemen Amerika menggunakan PC (Personal Computer) hanya 55% dari pekerja manajemen di Eropa Barat melakukan hal yang sama.
TABEL 14 –7.  Hubungan Antara Strategi Pemasaran dengan 3P
   3 P

STRATEGI PEMASARAN

Elemen Khusus

Strandardisasi
Lokal

Place

Ekonomi
Pasangan
Kompetisi
Makmur
Sedikit
Rendah
Kurang bagus
Banyak
Kuat
People
Selera
Pengalaman
Segmen
Klasifikasi
Pilihan sedikit
Tinggi
Sedikit
Industri/ konsumen
Banyak pilihan
Rendah
Banyak
Konsumen
Products
Teknologi
Culture bound
Reputasi
Persepsi tentang produk
Tinggi
Rendah
Bermutu
Tinggi
Rendah
Tinggi
Tidak dikenal
Rendah

D.    SEGMENTASI PSIKOGRAFIS LINTAS BUDAYA

Terdapat perbedaan sikap atau perilaku yang penting dalam menentukan kepuasan antar konsumer yang memungkinkan munculnya pembagian consumer berdasarkan perbedaan kultur.  Beberapa perusahaan mungkin mendirikan strategi global branding, sedangkan perusahaan lainnya dibentuk dengan strategi individual/local marketing. 

Penelitian di Amerika Utara dan Selatan, Asia, dan Eropa tentang nilai dasar motivasi yang mendorong terbentuknya sikap dan perilaku menghasilkan 6 kelompok global values market segments, yaitu :
1.  strivers: menyukai kekayaan, status, ambisi, dan kekuasaan.  Mereka berpikir bahwa persoalan material adalah sesuatu yang sangat penting.
2. devouts: mempunyai nilai-nilai tradisional seperti keyakinan, kewajiban, kepatuhan, menghormati yang lebih tua.  sedikit tergabung dengan media dan tidak terlalu menyukai produk luar, khususnya di Afrika dan Asia Tengah dan Timur.
3.  altruists : ekstroversion, suka masalah-masalah social dan penyebabnya.  Biasanya berpendidikan baik, usia-usia lebih tua (antara umur 44), dan kebanyakan wanita. (Rusia dan Amerika Latin)
4.  intimates : “people-people”, focus pada hubungan yang akrab, bersahabat, kekeluargaan.  Terdapat di England, Hungary, Belanda, dan US.
5.  fun seekers : grup paling muda, menyukai sesuatu yang menarik, petualangan, kesenangan, terlihat menarik, menghabiskan waktu di bar dan restoran. Suka akan media elektronik, gaya hidup global khususnya musik.
6.  creatives : menyukai teknologi, pengetahuan, dan belajar, consumer terbesar pada media seperti buku, majalah, dan Koran.  Menyukai barang yang menggunakan PC dan surfing di web.

Kesalahan Marketing : Kegagalan dalam Mengerti Perbedaan
Banyak marketers yang dalam market internasional yang tidak tahu apakah produk, pendekatan promosi, aturan harga, atau saluran eceran yang efektif di satu negara dan di negara lain serta mencoba menentukan perubahan spesifik apa yang harus dilakukan untuk setiap pasar asing.

Masalah Produk
Marketers internasional seringnya menolak untuk memodifikasi produknya untuk memenuhi keinginan budaya lokal.  Marketers Amerika yang menjual produk makanan di Jepang seringnya menemukan kesulitan yang akhirnya mengharuskan mereka mengubah karakteristik asal produknya.  Contoh lain, perusahaan besar cereal, Kellogg, berusaha menghindari berbagai ’jebakan budaya’ yang berhubungan dengan pasar makanan yang cross culture dalam ekspansi internasionalnya.  Sudah dipelajari dengan hati-hati perbedaan antara orang irlandia yang mengkonsumsi cereal paling banyak dengan orang Perancis, Italia, dan Yunani yang sarapannya tidak memasukkan cereal.     
Untuk mengatasi masalah ’jebakan budaya’ seperti itu maka marketers harus memastikan dengan teliti apakah karakteristik fisik produk mereka bisa diterima di pasar baru atau tidak.  Warna juga merupakan variabel yang penting dalam pasar internasional, karena satu warna yang sama sering memiliki arti yang berbeda di budaya-budaya yang berbeda.  Contohnya : warna biru di Belanda artinya hangat, di Iran berarti kematian, di Swedia berkonotasi dingin, di India berarti kemurnian.  Hal ini menjadi penting karena warna produk dan kemasan harus memberikan arti yang tepat di negara dimana produk tersebut dipasarkan.

Masalah Promosi
Ketika berkomunikasi dengan konsumer di berbagai negara, pesan promosi harus konsisten dengan bahasa dan budaya yang tepat dengan target masyarakatnya.  Contohnya : perusahaan 7-up sukses dengan tema ’uncola’ di pasar US, menjadi tidak tepat bagi banyak pasar asing karena hal itu tidak dialihbahasakan dengan baik dengan bahasa setempat.  Belajar kesalahan dengan lebih cepat, perusahaan multinasional seperti P&G dan Ford sekarang bekerja keras menjadi reseptif pada nilai dan rasa yang khusus pada pasar lokal.  Tindakan cepatnya adalah menarik sponsorshipnya pada program tv di beberapa negara ketika seks dan kekerasan pada tv show tersebut dinilai terlalu keras/berat.
Nama produk dan kalimat promosi juga bisa menyebabkan suatu masalah bagi marketers internasional.  Kata ’clock’ di Cina terdengar seperti kata ’kematian’.  Chevrolet nova tidak terjual dengan baik di Amerika Latin karena di Spanyol kata nova berarti ’tidak berlari’.

Masalah Harga dan Distribusi
Marketers internasional harus menyesuaikan peraturan harga dan ditribusi mereka dengan kondisi ekonomi dan tradisi lokal.  Sebagai contoh di banyak negara berkembang, produk ukuran kecil sering menjadi keharusan karena konsumer tidak dapat mengeluarkan biaya yang banyak untuk ukuran yang lebih besar yang lebih populer di US dan negara kaya lainnya.  Juga harus diingat bahwa pandangan Amerika dengan ’harga murah’ bisa dipandang tidak sama di negara lain.  Contoh : US fastfood franchises yang beroperasi di Mexico seperti McDonald, Burger King, Wendy’s dinilai fastfood kelas mahal di Mexico.
 Sistem distribusi tradisional Jepang berbeda dengan sistem di US, hubungan yang kompleks terjadi antara perusahaan manufaktur Jepang , distributor, dan retailernya.  Contoh : membutuhkan waktu selama 24 tahun bagi Jepang dari saat US mengenalkan ’apples’ nya sampai ’apples’ tersebut benar-benar mencapai pasar saat konsumer Jepang bisa membelinya.  Karena itu, marketers harus dapat membedakan saluran distribusi mereka di berbagai bangsa.

KESIMPULAN

Hampir semua perusahaan utama secara aktif memasarkan produk mereka keluar dari negara asalnya. Banyak perusahaan mengembangkan strategi untuk mengmbil keuntungan dari peluang ekonomi yang muncul. Perusahaan –perusahaan yang menjual produknya ke berbagai negara dengan berbagai alasan. Sejumlah besar perusahaan sekarang berusaha merebut market share dipasar asing. Contohnya Starbucks telah membuka toko di Jakarta Indonesia.
Banyak dan lebih banyak konsumen termasuk berhubungan dengan material barang atau gaya hidup untuk kehidupan masyarakat di bagian dunia yang lain, mereka mempunyai peluang untuk mengadopsi praktek dan produk berbeda ini. Bagaimana konsumen pada sebuah budaya menjamin mendapatkan barang untuk kehidupan masyarakat lainnya pada budaya lain adalah sebuah bagian penting dari perilaku konsumen. Banyak konsumen mau menerima budaya lain yang sangat berbeda dari budaya dinegara mereka.
Ketika konsumen membuat keputusan pembelian, mereka mungkin mengambil dengan pertimbangan negara asal untuk pilihan mereka. Para peneliti telah menunjukan bahwa konsumen menggunakan pengetahuan mereka untuk produk mana yang dibuat dalam evaluasi produk pilihan mereka. Sebuah jalan untuk menerangkan mengapa konsumen lebih suka membeli produk buatan sebuah negara dan tidak berharap membeli produk negara lainnya, atau mengapa konsumen dinegara berbeda menunjukan perilaku berbeda merupakan adanya sebuah identitas nasional.
      Analisis konsumen secara lintas budaya ini adalah usaha untuk menentukan derajat persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih negara. Analisis tersebut dapat menyediakan pemahaman terhadap karakteristik psikologis, sosial, dan budaya konsumen yang menjadi target bagi pelaku pasar, sehingga mereka dapat mendesain strategi pemasaran yang efektif. Analisis konsumen lintas budaya banyak dilakukan dengan semakin maraknya globalisasi, antara lain untuk mengetahui apa kesamaan dan perbedaan antara dua atau lebih budaya. Sehubungan dengan kesamaan standarisasi produk lebih dimungkinkan, sedangkan perbedaan selera dan pilihan produk anatara konsumen lintas budaya mengharuskan pemasar mencari cara beradaptasi supaya produknya diterima dinegara sasaran. Ada kemungkinan standarisasi produk diikuti dengan cara-cara berbisnis dan pemasaran yang berbeda antara negara yang satu dengan negara yang lainnya. Banyak ahli beranggapan bahwa dalam pemasaran global, akulturasi sangat dibutuhkan. Dan akulturasi harus dilakukan oleh pemasar terhadap budayalokal dan sebaliknya agar produk bisa diteria dipasar sasaran konsumen juga harus dipengaruhi untuk menerima nilai-nilai baru.
      Beberapa penjual berpendapat bahwa dunia pasar menjadi makin dan semakin mirip dan dibakukannya standar penjualan, oleh karena itu, menjadi makin dapat dikerjakan dengan mudah. Contohnya : Mobil Exxon telah mengeluarkan 150 juta dolar untuk mempromosikan produknya, dan perusahaan menginginkan semua advertisement untuk memiliki pandangan dan perasaan yang sama., tanpa memperhatikan dimana 100 negara di dunia advertisement itu akan muncul. Jelasnya, penjual lain merasa perbedaan antara konsumen dari berbagai negara adalah terlalu jauh untuk mengijinkan strategi penjualan yang baku. Dalam prakteknya, tantangan dasar untuk banyak eksekutif yang merenungkan penjualan multinasional adalah untuk memutuskan apakah menggunakan pembagian kebutuhan dan nilai-nilai (shared needs and values) sebagai strategi segmentasi atau menggunakan rintangan nasional (national borders) sebagai strategi segmentasi
Terdapat perbedaan sikap atau perilaku yang penting dalam menentukan kepuasan antar konsumer yang memungkinkan munculnya pembagian consumer berdasarkan perbedaan kultur.  Beberapa perusahaan mungkin mendirikan strategi global branding, sedangkan perusahaan lainnya dibentuk dengan strategi individual/local marketing. 
Banyak marketers yang dalam market internasional yang tidak tahu apakah produk, pendekatan promosi, aturan harga, atau saluran eceran yang efektif di satu negara dan di negara lain serta mencoba menentukan perubahan spesifik apa yang harus dilakukan untuk setiap pasar asing.
Marketers internasional seringnya menolak untuk memodifikasi produknya untuk memenuhi keinginan budaya lokal.  Marketers Amerika yang menjual produk makanan di Jepang seringnya menemukan kesulitan yang akhirnya mengharuskan mereka mengubah karakteristik asal produknya.  Contoh lain, perusahaan besar cereal, Kellogg, berusaha menghindari berbagai ’jebakan budaya’ yang berhubungan dengan pasar makanan yang cross culture dalam ekspansi internasionalnya.  Sudah dipelajari dengan hati-hati perbedaan antara orang irlandia yang mengkonsumsi cereal paling banyak dengan orang Perancis, Italia, dan Yunani yang sarapannya tidak memasukkan cereal.     
Untuk mengatasi masalah ’jebakan budaya’ seperti itu maka marketers harus memastikan dengan teliti apakah karakteristik fisik produk mereka bisa diterima di pasar baru atau tidak.  Warna juga merupakan variabel yang penting dalam pasar internasional, karena satu warna yang sama sering memiliki arti yang berbeda di budaya-budaya yang berbeda.  Contohnya : warna biru di Belanda artinya hangat, di Iran berarti kematian, di Swedia berkonotasi dingin, di India berarti kemurnian.  Hal ini menjadi penting karena warna produk dan kemasan harus memberikan arti yang tepat di negara dimana produk tersebut dipasarkan.
Ketika berkomunikasi dengan konsumer di berbagai negara, pesan promosi harus konsisten dengan bahasa dan budaya yang tepat dengan target masyarakatnya.  Contohnya : perusahaan 7-up sukses dengan tema ’uncola’ di pasar US, menjadi tidak tepat bagi banyak pasar asing karena hal itu tidak dialihbahasakan dengan baik dengan bahasa setempat.  Belajar kesalahan dengan lebih cepat, perusahaan multinasional seperti P&G dan Ford sekarang bekerja keras menjadi reseptif pada nilai dan rasa yang khusus pada pasar lokal.  Tindakan cepatnya adalah menarik sponsorshipnya pada program tv di beberapa negara ketika seks dan kekerasan pada tv show tersebut dinilai terlalu keras/berat.
Nama produk dan kalimat promosi juga bisa menyebabkan suatu masalah bagi marketers internasional.  Kata ’clock’ di Cina terdengar seperti kata ’kematian’.  Chevrolet nova tidak terjual dengan baik di Amerika Latin karena di Spanyol kata nova berarti ’tidak berlari’.
            Marketers internasional harus menyesuaikan peraturan harga dan ditribusi mereka dengan kondisi ekonomi dan tradisi lokal.  Sebagai contoh di banyak negara berkembang, produk ukuran kecil sering menjadi keharusan karena konsumer tidak dapat mengeluarkan biaya yang banyak untuk ukuran yang lebih besar yang lebih populer di US dan negara kaya lainnya.  Juga harus diingat bahwa pandangan Amerika dengan ’harga murah’ bisa dipandang tidak sama di negara lain.  Contoh : US fastfood franchises yang beroperasi di Mexico seperti McDonald, Burger King, Wendy’s dinilai fastfood kelas mahal di Mexico.
 Sistem distribusi tradisional Jepang berbeda dengan sistem di US, hubungan yang kompleks terjadi antara perusahaan manufaktur Jepang , distributor, dan retailernya.  Contoh : membutuhkan waktu selama 24 tahun bagi Jepang dari saat US mengenalkan ’apples’ nya sampai ’apples’ tersebut benar-benar mencapai pasar saat konsumer Jepang bisa membelinya.  Karena itu, marketers harus dapat membedakan saluran distribusi mereka di berbagai bangsa.

SARAN

Menurut kelompok kami, segmentasi psikografis sangat berpengaruh pada lintas budaya itu dikarenakan ada perbedaannya sikap dan perilaku menjadi krusial dalam menentukan kepuasan misalnya dunia ini banyak sekali wanita yang bekerja untuk membantu suaminya mencari nafkah itu akan merubah perilaku konsumen dalam membeli sesuatu produk. Masalah produk adalah lebih baik menggunakan produk negara kita sendiri atau yang sering disebut dengan mencintai produk negeri sendiri, memang banyak merek pesaing dari luar negri. Contoh nya adalah seperti negara kita Indonesia, di Indonesia banyak sekali merk barang-barang import padahal dari negara kita sendiri mampu menghasilkan barang-barang yang bermerek dengan produk yang berkualitas. Menurut kami sebaiknya gunakanlah barang produk buatan Indonesia sekaligus melestarikan budaya yang ada di Indonesia, seperti cotohnya Batik. Budaya di Indonesia saat ini mulai sirna dengan masuknya budaya luar negri ke negara Indonesia. Dengan kita menggunakan produk dalam negri kita juga membantu pemerintah dengan pemasukan pajak untuk membantu utang pemerintah walaupun dengan jumlah yang tidak seberapa.
Dalam hal untuk segmentasi psikografis lintas budaya ada beberapa perbedaan dalam sikap dan perilaku untuk menentukan kepuasan yang memungkinkan untuk menyediakan sebuah kesempatan dalam segmentasi konsumen budaya yang berbeda. Seperti contoh di beberapa negara di dunia seperti Jepang dan Amerika banyak peningkatan jumlah wanita yang bekerja di luar rumah beberapa perbedaan tersebut dapat mengakibatkan perbedaan sikap dan perilaku dalam penentuan kepuasan dalam sebuah kesempatan kerja. Menurut kelompok kami hal seperti ini adalah hal yang dapat memotivasi para wanita untuk dapat mengembangkan karir atau pun keahlian wanita tersebut.
Kesimpulan menurut kelompok kami adalah dari merek pesaing yang ada di dunia dalam suatu produk lebih baik menggunakan produk dari negara kita saja. Produk dalam negri juga tidak jauh berbeda dengan kualitas produk import. Dalam hal ini kita juga dapat melestarikan budaya yang ada d negara kita untuk tetap menggunakan atau mengkonsumsi produk lokal. Dan para ketenagakerjaannya pun berkualitas pula, pekerja wanita maupun pria nya. Karena menurut kami budaya wanita bekerja dalam hal ini masih di bilang wajar karena wanita juga berhak mengembangkan keahlian yang wanita punya.

DAFTAR PUSTAKA

Philip Kotler, 2003, “Marketing Management”, 11th Edition, Prentice Hall Inc.
Schiffman Leon G, Kanuk Leslie Lazar, 2007, “Consumer Behavior”, 9th Edition, Pearson Educational Internasional, New Jersey-USA.
Schiffman Phillip & Kotter, 2004, “Consumer Behavior”, New Jersey : Prentice Hall.
Soloon Micheal R, 2007, “Consumer Behavior: Buying, Having and Being”, Seventh Edition, Pearson Prentice Hall, New Jersey-USA.
Supranto J, Limakrisna Nandan, 2007, “Perilaku Konsumen & Strategi Pemasaran”, Edisi Pertama, Mitra Wacana Media, Jakarta-Indonesia.


2 komentar: