TUGAS
PERILAKU
KONSUMEN
TENTANG
PERILAKU KONSUMEN LINTAS BUDAYA
PERSPEKTIF INTERNASIONAL
DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4
· DELVIRA PUSPITASARI / 11210774
· DENNY NURAHMAN / 19210114
· DEWI KOMALASARI / 19210117
· ELLYANA UTAMI / 19210379
· FADDILAH MUHAMMAD ADAM / 12210471
· FINITA GIAN ANGGARINI / 12210787
· FLOURENZHA C.P / 12210862
· NORMAN ARIOWIBOWO / 15210036
· OCTAVIANTHI / 18210159
· SUHARTINI UMI KJH / 16210718
KELAS : 3 EA
07
UNIVERSITAS
GUNADARMA
PTA
2012/2013
PERILAKU KONSUMEN LINTAS BUDAYA
PERSPEKTIF
INTERNASIONAL
A.
PENTINGNYA
MENJADI MULTINASIONAL
Hari ini hampir semua perusahaan utama
secara aktif memasarkan produk mereka keluar dari negara asalnya. Banyak
perusahaan mengembangkan strategi untuk mengmbil keuntungan dari peluang
ekonomi yang muncul. Perusahaan –perusahaan yang menjual produknya ke berbagai
negara dengan berbagai alasan. Sejumlah besar perusahaan sekarang berusaha
merebut market share dipasar asing. Contohnya Starbucks telah membuka toko di Jakarta
Indonesia.
1. Memperoleh
pengetahuan budaya lainnya.
Banyak dan lebih banyak konsumen
termasuk berhubungan dengan material barang atau gaya hidup untuk kehidupan
masyarakat di bagian dunia yang lain, mereka mempunyai peluang untuk mengadopsi
praktek dan produk berbeda ini. Bagaimana konsumen pada sebuah budaya menjamin
mendapatkan barang untuk kehidupan masyarakat lainnya pada budaya lain adalah
sebuah bagian penting dari perilaku konsumen. Banyak konsumen mau menerima
budaya lain yang sangat berbeda dari budaya dinegara mereka.
2. Pengaruh
negara asal.
Ketika konsumen membuat keputusan
pembelian, mereka mungkin mengambil dengan pertimbangan negara asal untuk
pilihan mereka. Para peneliti telah menunjukan bahwa konsumen menggunakan
pengetahuan mereka untuk produk mana yang dibuat dalam evaluasi produk pilihan
mereka.
3. Apakah
identitas nasional.
Sebuah jalan untuk menerangkan
mengapa konsumen lebih suka membeli produk buatan sebuah negara dan tidak
berharap membeli produk negara lainnya, atau mengapa konsumen dinegara berbeda
menunjukan perilaku berbeda merupakan adanya sebuah identitas nasional.
Faktor-faktor yang mendorong bisnis
global meliputi:
1.
Merket driver, aspek perilaku konsumen,
saluran distribusi dan sifat pemasaran bisnis. Perubahan dalam market driver
adalah:
a. Pendapatan
perkapita
b. Perubahan
gaya hidup
c. Arus
wisatawan mancanegara yang semakin meningkat
d. Mulainya
perilaku organisasi yang seperti pelanggan global
e. Pertubuhan
saluran distribusi yang semakin menglobal
f. Berkembangnya
merek global
2.
Cost driver, aspek ekonomi dunia bisnis
dan terdapat beberapa perubahan yang terjadi dala cost driver, yaitu:
a. Tekanan
untuk mencapai skala ekonomi
b. Inovasi
teknologi yang semakin cepat
c. Kemajuan
transportasi
d. Munculnya
NIC (Newly Industry Countries)
e. Peningkatan
biaya pengembangan terhadap produk dipasar
3.
Govemment driver, tindakan atau
kebijakan pemerintah, meliputi:
a. Pengurangan
hambatan tarif
b. Pengurangan
hambatan non tariff
c. Pembentukan
blok perdagangan seperti pasar tunggal eropa, AFTA.
d. Berkurangnya
peran pemerintah produsen dan pelanggan
4.
Competitive driver, tindakan pesaing
sehubungan dengan perubahan yang terjadi, meliputi:
a. Tingkat
perdagangan dunia yang semakin meningkat
b. Semakin
banyak negara yang membuka kunci persaingan, munculnya jepang sebagai pemimpin.
c. Perusahaan
yang dimiliki asing semakin meningkat
d. Munculnya
pesaing baru yang menjadi pesaing global
e. Tersebarnya
fasilitas produksi di berbagai negara
f. Meningkatnya
aliansi strategi global.
Jenis-jenis organisasi
lintas budaya:
1.
Internasional organisasi
Organisasi
bisnis yang beroperasi diluar negeri sebagai bagian dari bisnis dari kantor
pusat yang ada di dalam negeri. Kebijakan pemasaran untuk melayani customer
secara domestic dan keudian menawarkan marketing mix yang sama kenegara
lainnya.
2.
Organisasi multinasional
Organisasi
bisnis yang mempunyai kegiatan diluar negeri yang merupakan sebuah portofolio
bisnis independen. Kebijakan untuk melayani pelanggan didesain secara
individual dimasing-masing negara.
3. Organisasi
global
Organisasi
bisnis dengan kegiatan bisnis diluar negeri sebagai feeder atau saluran
pengangkut ke pasar global. Kebijakannya adalah untuk melayani sebuah pasar
global dengan sebuah marketing mix tunggal dengan ciri-ciri pembuatan keputusan
yang tersentralisasi.
4. Organisasi
trans nasional
Organisasi yang
menangani kegiatan diluar negeri sebagai sebuah proses yang komplek untuk
koordinasi dan kerjasama. Lingkungan yang ditangani sebagai sebuah pembuatan
keputusan yang merupakan bagian dari cara berpartisipasi. Kebijakan untuk
melayani lingkungan bisnis global menggunakan sumber daya global yang fleksibel
dengan formulasi marketing mix global berbeda.
Terdapat dua subjek
penting dalam saluran pemasaran internasional, yaitu:
a.
Strategi memasuki pasar
Terdapat tiga
cara untuk masuk kenegara lain:
·
Ekspor
·
Transfer teknologi dan kehlian
dibutuhkan untuk memproduksi dan memasarkan barang ke perusahaan-perusahaan di
negara lain melalui perjanjian kontrak
·
Investasi langsung
b.
Alternatif saluran
Dua alternatif
saluran internasional utama yang tersedia bagi produsen domestic, yaitu:
·
Perantara domestic, perantara yang
mempunyai pengetahuan tentang pasar luar negeri dan berkemampuan menyediakan
jenis perwakilan local yang ditawarkan perantara asing.
·
Perantara asing, perusahaan membuat
kesepakatan langsung dengan perantara asing. Cara ini lebih memperpendek
saluran dan membuat pabrikan lebih dekat ke pasar. Masalah utamanya adalah
bahwa perantara asing jauh lokasinya sehingga sulit diawasi ke timbang
perantara domestic.
B. ANALISIS KONSUMEN LINTAS BUDAYA
Analisis
konsumen secara lintas budaya ini adalah usaha untuk menentukan derajat
persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih negara. Analisis tersebut dapat
menyediakan pemahaman terhadap karakteristik psikologis, sosial, dan budaya konsumen
yang menjadi target bagi pelaku pasar, sehingga mereka dapat mendesain strategi
pemasaran yang efektif. Analisis
konsumen lintas budaya banyak dilakukan dengan semakin maraknya globalisasi,
antara lain untuk mengetahui apa kesamaan dan perbedaan antara dua atau lebih
budaya. Sehubungan dengan kesamaan standarisasi produk lebih dimungkinkan,
sedangkan perbedaan selera dan pilihan produk anatara konsumen lintas budaya mengharuskan
pemasar mencari cara beradaptasi supaya produknya diterima dinegara sasaran.
Ada kemungkinan standarisasi produk diikuti dengan cara-cara berbisnis dan
pemasaran yang berbeda antara negara yang satu dengan negara yang lainnya.
Banyak ahli beranggapan bahwa dalam pemasaran global, akulturasi sangat
dibutuhkan. Dan akulturasi harus dilakukan oleh pemasar terhadap budayalokal
dan sebaliknya agar produk bisa diteria dipasar sasaran konsumen juga harus
dipengaruhi untuk menerima nilai-nilai baru.
1. Kesamaan
dan perbedaan antara masyarakat
Pemahaman mengenai
persamaan dan perbedaan yang ada pada negara – negara sangat penting bagi
pelaku pasar multinasional yang harus menyusun strategi yang tepat untuk meraih
konsumen di suatu negara yang spesifik. Semakin banyak persamaan antara satu
negara dengan negara lain, maka pelaku pasar juga cenderung memakai strategi
pemasaran yang hampir sama. Sedangkan jika kepercayaan, nilai, dan adat istiadat dari
target negara – negara jauh berbeda; maka strategi pemasaran yang lebih
spesifik diterapkan. Produk yang sama dapat mempunyai makna yang berbeda di
tiap negara. Misalnya strategi pemasaran di Indonesia yang berbudaya kolektif,
dengan extended family, dan masih menjunjung adat istiadat
akan berbeda dengan strategi pemasaran di Amerika Serikat yang berbudaya
individualis, dengannuclear family, dan terbuka terhadap perubahan.
Peraturan dan kebijakan yang berbeda menuntut pelaku pasar untuk berhati – hati
dalam mendesain suatu strategi.
Perspektif
pemasaran global menekankan kesamaan konsumen diseluruh dunia dan merupakan
lawan dari strategi pasar local yang menekan perbedaan konsumen pada
bangsa-bangsa yang berbeda beserta orientasi budaya spesifik mereka.
Nilai-nilai pada beberapa negara dapat berbeda dan memiliki keunikan antara
yang satu dengan yang lainnya. Misalnya iklan perusahaan jepang cendrung
mempunyai komitmen yang kuat pada kelompok, ketergantungan secara social dan
kolektivism (bekerja sama antara yang satu dengan yang lainnya) sedangkan iklan
Amerika cendrung pada sikap individualisme, kurang tergantung secara social
(bekerja mandiri), menerima ketidakpastian sebagai suatu hal yang biasa dan
lebih suka bersaing untuk menjadi yang terbaik. Jika masuk pasar multinasional para pemasar harus siap menyesuaikan bauran
pemasaran mereka dengan kebiasaan khusus setiap bangsa yang menjadi pasar sasaran.
2. Pertumbuhan
kelas menengah global
Pertumbuhan
kelas menengah di negara berkembang adalah sebuah fenomena sangat menarik bagi
pemasar yang seringkali ingin mengidentifikasi pelanggan baru produk mereka. Di
Cina pendapatan $1,500 adalah kelas menengah yang menjadi pertimbangan kekuatan
membeli dan merupakan sebuat target televise dan computer. Pada bagian lain
pendapatan setara $5,000 menjadi point pertimbangan dimana seseorang menjadi
kelas menengah dan telah diperkirakan lebih dari 1 Milyar masyarakat yang
berada dinegara berkembang memenuhi standar ini. Ini penting untuk catatan
lebih dahulu bahwa konsumen pada beberapa negara kuarang maju sering tidak bisa
menghasilkan pembayaran sebanyak sebuah produk seperti konsumen pada ekonomi
yang lebih maju lakukan.
3. Akulturasi
merupakan sebuah kebutuhan sudut pandang pemasaran.
Banyak pelaku pasar bermaksud melakukan perluasan
internasional dengan melakukan strategi yang salah dengan percaya bila sebuah
produk disukai oleh konsumen local atau domestik, kemudian semua orang akan
menyukainya. Sudut pandang yang bias ini meningkatkan kemungkinan kegagalan
penjualan jadi menyebar. Untuk mengatasi pandangan yang sempit dan myopic
culturally, pelaku pasar harus melakukan acculturation process. Mereka
harus mempelajari yang relevan tentang kegunaan dan penggunaan potensial produk
mereka di negara-negara asing yang menjadi target pemasaran.
Akulturasi lintas budaya adalah proses ganda (dual
process) untuk penjual. Pertama, penjual harus mengenalkan dengan seksama
diri mereka nilai-nilai (values), kepercayaan (beliefs), dan adat
istiadat (customs) dari masyarakat yang baru untuk posisi dan pasar yang
tepat bagi produk mereka. Kedua, untuk mendapatkan penerimaan bagi produk baru
di masyarakat asing, mereka harus mengembangkan satu strategi yang mendorong
anggota masyarakat untuk merubah atau memecahkan tradisi mereka sendiri.
Banyak
pemasar merenungkan ekspansi internasional membuat kesalahan stategi percya
bahwa jika produknya disukai oleh coonsumen local atau domestic selanjutnya
seseorang akan menyukainya.
4. Teknik
mengadakan penelitian.
Dalam Lintas Budaya, beban bertambah terjadi karena
bahasa dan penggunaan kata-kata seringkali berbeda dari satu negara ke negara
lain. Masalah lain pada penelitian perdagangan internasional menekankan pada
skala pengukuran. Di USA, 5 atau 7 poin skala mungkin sesuai, tetapi
di negara lain, 10 atau bahkan 20 poin skala, mungkin dibutuhkan. Lebih jauh
lagi, fasilitas penelitian pelayanan lewat telepon, tersedia atau tidak
tersedia di negara-negara atau wilayah tertentu di dunia. Untuk menghindari
masalah pengukuran penelitian, para peneliti konsumen harus membiasakan diri
mereka dengan keterbatasan pelayanan penelitian di negara-negara yang mereka
evaluasi sebagai pasar yang potensial dan harus mempelajari bagaimana mendesain
penelitian penjualan yang akan menghasilkan data yang berguna. Peneliti harus
ingat bahwa perbedaan budaya dapat membuat metodologi penelitian yang “standar”
menjadi tidak sesuai. Walaupun teknik dasar penelitian yang
sama digunakan mempelajari konsumen domestic bermanfaat untuk mempelajari
konsumen di negera asing, pada analisis lintas budaya sebuah beban tambahan ada
telah diperdebatkan karena bahasa dan penggunaan kata yang sering berbeda dari
negara ke negara.
C.
ALTERNATIF
STRATEGI MULTINASIONAL : GLOBAL VS LOKAL
Beberapa penjual berpendapat bahwa dunia pasar menjadi
makin dan semakin mirip dan dibakukannya standar penjualan, oleh karena itu,
menjadi makin dapat dikerjakan dengan mudah. Contohnya : Mobil Exxon telah
mengeluarkan 150 juta dolar untuk mempromosikan produknya, dan perusahaan
menginginkan semua advertisement untuk memiliki pandangan dan perasaan yang
sama., tanpa memperhatikan dimana 100 negara di dunia advertisement itu akan
muncul. Jelasnya, penjual lain merasa perbedaan antara konsumen dari berbagai
negara adalah terlalu jauh untuk mengijinkan strategi penjualan yang baku.
Dalam prakteknya, tantangan dasar untuk banyak eksekutif yang merenungkan
penjualan multinasional adalah untuk memutuskan apakah menggunakan pembagian
kebutuhan dan nilai-nilai (shared needs and values) sebagai strategi
segmentasi atau menggunakan rintangan nasional (national borders)
sebagai strategi segmentasi
1. Keuntungan
sebuah merek dunia
Beberapa perusahaan telah menciptakan produk ber-merk
dunia yang dihasilkan, dikemas, dan diposisikan dengan cara yang sama tanpa
menghiraukan negara di mana produk itu dijual. Penjual produk-produk dengan
pasar yang luas menggunakan sebuah world branding strategy. Contohnya
; Gilette, Estee Lauder, Unilever, dan Flat, juga menggunakan periklanan global
untuk bermacam-macam produk dan pelayanan.
Sebuah
peningkatan julah perusahaan telah membentuk merek dunia produk yang di
produksi, dikemas dan diposisi persis sama jalannya tanpa memperhatikan negara
dimana mereka dijual.
Faktor-faktor khusus yang mempengaruhi dalam menetapkan nama
merek yang berkualitas:
a. Nama
yang berbeda dari yang ditawarkan pesaing.
b.Keterangan,
attribute dan keuntungan nama.
c.
Mencapai produk yang cocok dengan
kebutuhan konsumen dan brand image yang diinginkan dengan desain dan kemasan
produk.
d.
Bisa di ingat dan mudah pengucapkan dan
penulisannya.
2.
Apakah perbedaan merek global
Sebuah brand merupakan penandaan unik dari sebuah
perusahaan atau merek dagang yang membedakannya dengan penawaran dari kategori
produk lain yang masuk. Nama merek yang baik bisa membangkitkan perasaan
percaya, keamanan, kekuatan, daya tahan, kecepatan, status dan lain-lain.
Pemilihan nama untuk sebuah merek adalah untuk:
a. Mempengaruhi
kecepatan konsumen dalam peilihan nama untuk sebuah merek.
b.Mempengaruhi
image merek
c. Juga
memainkan peranan utama pada formasi brand equity.
Merek global dipandang sangat berbeda dari merek
local dan konsumen, worldwide, menghubungkan merek global dengan tiga
karakteristik: tanda kualitas, mitos global dan tanggung jawab social.
a.
Pertama, konsumen percaya bahwa lebih
banyak masyarakat yang embeli sebuah merek dengan kualitas lebih tinggi,
selanjutnya konsumen worldwide mempercayai bahwa merek global mengembangkan
produk baru dan penemuan teknologi selangkah lebih cepat dari merek local.
b.Kedua,
mitos global mengenai konsumen memandang merek global sebagai sejenis budaya
ideal, mereka membeli dan menggunakan membuat konsumen merasakan seperti
seorang warga negara dunia dan member identitas mereka.
c.
Terakhir, perusahaan global memegang
tingkat tanggung jawab social yang lebih tinggi dari perusahaan local yang
diharapkan.
3. Reaksi
multinasional pada merek luar.
Karena sebuah merek menjadi global dalam karakter
tidak bermaksud bahwa konsumen diseluruh dunia akan memberikan respon yang saa
pada sebuah merek luar. Dalam penelitian menunjukkan bahwa orang timur berfikir
dengan jalan holistic yang memfokuskan perhatiannya pada hubungan antara objek
sedangkan orang barat yang berfikir analitik dengan memfokuskan perhatiannya
pada atribut atau bagian-bagian objek dan pada kategori pilihan akan
mempengaruhi cara penilaian konsuen menetapkan merek luar.
4.
Pemasaran global yang adaptif
Dalam membedakan strategi komunikasi pemasaran yang
menekankan pada pesan umum, beberapa perusahaan melakukan strategi yang
menyesuaikan iklan mereka dengan nilai-nilai khusus kebudayaan. Mc Donald’s
adalah contoh perusahaan yang mencoba untuk melokalisir iklannya di tiap pasar
yang mempunyai kebudayaan yang berbeda, dengan cara membuat perusahaan
“glocal”. Contohnya, Ronald McDonald telah berganti nama menjadi Donald
McDonald di Jepang karena bahasa Jepang tidak mengandung bunyi “R”. Sebagai
tambahan, menu McDonald di Jepang telah dilokalisir dengan memasukkan menu sup
jagung dan milkshake teh hijau. Di Swedia McDonald’s
mengembangkan bungkus baru menggunakan ilustrasi dengan ukiran kayu dan desain
yang lembut untuk menarik minat konsumen di negara itu dimana orang di negara
itu memiliki cita rasa yang tinggi terhadap makanan dan menyukai kegiatan di
luar ruangan. Beberapa perusahaan menggunakan beberapa kombinasi strategi.
Misalnya, Unilever, Playtex dan Black & Decker telah menambah strategi
global mereka dengan mengesahkan produk mereka secara lokal. Dalam mengambil
pendekatan yang adaptif, pembuat iklan global dengan pengetahuan tentang
perbedaan kebudayaan dapat membuat pesan tambahan yang efektif untuk
menyesuaikan dengan pemasaran lokal. Penelitian terbaru yang dilakukan
oleh advertiser asing di China menemukan bahwa 11 persen
perusahaan menggunakan global strategi, 12 persen menggunakan lokal strategi
dan hampir 77 persen menggunakan strategi kombinasi. Dari 7 komponen periklanan
yang telah dipelajari, bahasa lokal untuk memadukan dengan budaya lokal telah
disadari sebagai hal yang paling penting, hal penting lainnya ialah atribut
produk lokal, model, warna iklan, humor,background pemandangan, dan
musik.
5. Kerangka
untuk menilai strategi multinasional
Pemasaran multinasional tengah menghadapi tantangan untuk
membuat program pemasaran dan periklanan yang mampu berkomunikasi secara
efektif dengan beberapa target pemasaran yang beranekaragam. Untuk membantu
penyelesaian tugas tersebut, bermacam-macam kerangka telah dikembangkan untuk
menentukan apakah pemasaran dan periklanan akan menggunakan strategi global
ataukah lokal.
Tabel dibawah ini (14 -5) menunjukkan 5 tahapan yang
berkesinambungan mulai dari munculnya kesadaran tentang suatu merek asing di
suatu area pasar lokal sampai pada identifikasi global secara lengkap terhadap
merek tersebut dengan demikian merek diterima sebagai (as is) di hampir
semua pasar dan konsumen tidak berpikir dari mana asal negaranya.
TABEL 14 – 5. Kontinuitas Rekognisi Suatu Produk
untuk Pemasaran Multinasional
FAKTOR
|
CONTOH
|
Tingkat 1
|
Konsumen lokal mendengar
atau membaca satu merek terkenal di suatu tempat tetapi tidak dapat
memperolehnya di rumah, merek itu aneh dan tidak tersedia tetapi bisa menjadi
suatu dorongan, contohnya Rokok Havana (buatan Kuba).
|
Tingkat 2
|
Konsumen lokal melihat
satu merek yang dibuat di tempat lain sebagai sesuatu yang asing. Produk itu
dibuat di suatu negara bagian tetapi tersedia secara lokal. Contohnya seperti
Anggur Prancis. Kenyataan bahwa merek itu adalah suatu merek asing menimbulkan
suatu perbedaan pemikiran pada konsumen, kadang-kadang disukai dan
kadang-kadang tidak disukai
|
Tingkat 3
|
Konsumen lokal
menyampaikan suatu merek yang diimpor sebagai status kebangsaan yaitu dari
negara mana produk itu berasal telah diketahui tetapi tidak mempengaruhi
pilihan mereka, misalnya bir Molson dari Amerika Serikat
|
Tingkat 4
|
Merek dimiliki oleh
suatu perusahaan asing secara domestik dan kemudian diterima oleh konsumen
lokal sebagai suatu merek lokal, asal usul dari mana produk itu mungkin
diingat tetapi merek itu telah diadopsi, contohnya merek Sony di Amerika
Serikat, Coca Cola di Eropa dan Jepang
|
Tingkat 5
|
Merek sudah kehilangan
identitas nasional dan konsumen dimanapun melihat itu sebagai sesuatu yang
tanpa batas atau global, konsumen tidak lagi dapat mengindentifikasi dari
mana merek itu berasal dan tidak pernah mempedulikan hal itu, contoh kantor
berita CNN, Nescafe.
|
Tabel 14-6 menunjukkan suatu kerangka
kerja yang menunjukkan pada 4 strategi pemasaran yang tersedia untuk suatu
perusahaan yang mempunyai tujuan untuk menjalankan bisnis yang berbasis global.
Suatu perusahaan mungkin akan menetapkan apakah produknya itu adalah produk
yang terstandar atau produk lokal dan program mengkomunikasikannya itu
terstandar atau lokal (matrik 2 x 2). Di tengah-tengah ada dua strategi
campuran, semua empat sel dapat merepresentasikan pertumbuhan kesempatan bagi
perusahaan. Untuk menenentukan sel yang mana yang merupakan strategi yang baik
bagi perusahaan, pemasar harus melakukan analisis konsumen lintas budaya untuk
mencapai atau mendapatkan reaksi konsumen bagi penetapan produknya maupun
promosinya sebagai gambaran pentingnya strategi produk satu bentuk, contohnya
seperti Frito-Lay di Amerika dengan bentuk Snack Food Giant. Hal tersebut sudah memiliki standar
kualitas dan mengurangi berbagai merek lokal yang dinamai perusahaan potato chip yang sudah sangat terkenal di seluruh
dunia. Usaha ini menggerakkan perusahaan suatu penampilan visual secara umum
bahwa gambar logo Lay adalah sebagai suatu merek global.
Usaha ini didorong oleh penelitian yang menunjukkan bahwa potato chip adalah sebuah makanan ringan yang
sudah tersebar di seluruh dunia.
TABEL 14
– 6. Kerangka
untuk alternatif strategi pemasaran global
STRATEGI PRODUK
|
STRATEGI KOMUNIKASI
|
|
Komunikasi standarisasi
|
Komunikasi lokal
|
|
Produk standarisasi
|
Strategi global:
Keseragaman produk atau Keseragaman iklan
|
Strategi campuran:
Keseragaman produk/ iklan umum
|
Produk lokal
|
Strategi campuran:
Produk umum / iklan yang seragam
|
Strategi lokal:
Produk umum/ iklan umum
|
Orientasi lain untuk mengukur apakah
penggunaan strategi pemasaran lokal atau pemasaran global dipusatkan pada
kontinum teknologi tinggi sampai pada sentuhan tinggi (high-tech or
high-touch). Standarisasi produk nampak paling sukses bagi produk-produk
yang memiliki keterlibatan tinggi yang menggunakan pendekatan baik pada
kontinum high-tech dan high-touch dengan kata lain produk-produk yang
berada pada ekstrim high-tech dan high-touchlebih cocok ditempatkan sebagai satu
merek dan promosi global. Sebaliknya produk-produk dengan keterlibatan rendah
di dalam kontinum high-tech dan high-touch lebih cocok di pasarkan sebagai merek
lokal menggunakan keputusan pasar oleh pasar. Sebagai gambaran pada suatu basis
mendunia konsumen tertarik dalam keterlibatan yang tinggi dan produk dengan
teknologi tinggi dibagi sebagai satu bahasa umum seperti contohnya “bytes”
dan “microprocessors” sedangkan iklan untuk produk-produk dengan
sentuhan tinggi cenderung untuk menggunakan lebih banyak penampilan emosional
dan menekankan imej visual.
Beberapa
peneliti telah menuliskan bahwa globalisasi (standarisasi) dan lokalisasi harus
dipandang sebagai dua akhir dari suatu kontinum dan kadang kunci dari
kesusksesan itu adalah “be global but to act local”. Ketika mencari kesusksesan di sebuah
pasar asing telah disarankan bahwa satu perusahaan harus ingat 3 P (Place,
People, Product). Tabel 14-7 menunjukkan elemen khusus dari 3P tersebut dan menyebutkan strategi
pemasaran yang tepat kapan perusahaan menggunakan pendekatan strandarisasi dan
kapan menggunakan pendekatan lokal. Ketika pemasaran produk high-tech itu meluas maka penting untuk
dicatat bahwa banyak negara-negara industri tertinggal di belakang Amerika
Serikat dalam penggunaan komputer, contohnya meskipun lebih dari 90% pekerja
manajemen Amerika menggunakan PC (Personal Computer) hanya 55% dari
pekerja manajemen di Eropa Barat melakukan hal yang sama.
TABEL 14
–7. Hubungan
Antara Strategi Pemasaran dengan 3P
3 P
|
STRATEGI PEMASARAN |
||
Elemen Khusus |
Strandardisasi
|
Lokal
|
|
Place |
Ekonomi
Pasangan
Kompetisi
|
Makmur
Sedikit
Rendah
|
Kurang bagus
Banyak
Kuat
|
People
|
Selera
Pengalaman
Segmen
Klasifikasi
|
Pilihan sedikit
Tinggi
Sedikit
Industri/ konsumen
|
Banyak pilihan
Rendah
Banyak
Konsumen
|
Products
|
Teknologi
Culture bound
Reputasi
Persepsi tentang
produk
|
Tinggi
Rendah
Bermutu
Tinggi
|
Rendah
Tinggi
Tidak dikenal
Rendah
|
D.
SEGMENTASI
PSIKOGRAFIS LINTAS BUDAYA
Terdapat perbedaan sikap atau perilaku yang penting dalam
menentukan kepuasan antar konsumer yang memungkinkan munculnya pembagian
consumer berdasarkan perbedaan kultur. Beberapa
perusahaan mungkin mendirikan strategi global branding, sedangkan perusahaan
lainnya dibentuk dengan strategi individual/local marketing.
Penelitian di Amerika Utara dan Selatan, Asia, dan Eropa
tentang nilai dasar motivasi yang mendorong terbentuknya sikap dan perilaku
menghasilkan 6 kelompok global values market segments, yaitu :
1. strivers:
menyukai kekayaan, status, ambisi, dan kekuasaan. Mereka berpikir bahwa persoalan
material adalah sesuatu yang sangat penting.
2. devouts: mempunyai nilai-nilai tradisional
seperti keyakinan, kewajiban, kepatuhan, menghormati yang lebih tua. sedikit tergabung dengan media dan
tidak terlalu menyukai produk luar, khususnya di Afrika dan Asia Tengah dan
Timur.
3. altruists : ekstroversion, suka masalah-masalah
social dan penyebabnya. Biasanya
berpendidikan baik, usia-usia lebih tua (antara umur 44), dan kebanyakan
wanita. (Rusia dan Amerika Latin)
4. intimates : “people-people”, focus pada
hubungan yang akrab, bersahabat, kekeluargaan. Terdapat di England, Hungary, Belanda, dan US.
5. fun seekers : grup paling muda, menyukai
sesuatu yang menarik, petualangan, kesenangan, terlihat menarik, menghabiskan
waktu di bar dan restoran. Suka akan media elektronik, gaya hidup
global khususnya musik.
6. creatives : menyukai teknologi, pengetahuan,
dan belajar, consumer terbesar pada media seperti buku, majalah, dan
Koran. Menyukai barang yang
menggunakan PC dan surfing di web.
Kesalahan Marketing : Kegagalan
dalam Mengerti Perbedaan
Banyak marketers yang dalam market internasional yang tidak
tahu apakah produk, pendekatan promosi, aturan harga, atau saluran eceran yang
efektif di satu negara dan di negara lain serta mencoba menentukan perubahan
spesifik apa yang harus dilakukan untuk setiap pasar asing.
Masalah Produk
Marketers internasional seringnya menolak untuk
memodifikasi produknya untuk memenuhi keinginan budaya lokal. Marketers Amerika yang menjual produk
makanan di Jepang seringnya menemukan kesulitan yang akhirnya mengharuskan
mereka mengubah karakteristik asal produknya. Contoh lain, perusahaan besar cereal,
Kellogg, berusaha menghindari berbagai ’jebakan budaya’ yang berhubungan dengan
pasar makanan yang cross culture dalam ekspansi internasionalnya. Sudah dipelajari dengan hati-hati
perbedaan antara orang irlandia yang mengkonsumsi cereal paling banyak dengan
orang Perancis, Italia, dan Yunani yang sarapannya tidak memasukkan
cereal.
Untuk mengatasi masalah ’jebakan budaya’ seperti itu maka
marketers harus memastikan dengan teliti apakah karakteristik fisik produk
mereka bisa diterima di pasar baru atau tidak. Warna juga merupakan variabel yang
penting dalam pasar internasional, karena satu warna yang sama sering memiliki
arti yang berbeda di budaya-budaya yang berbeda. Contohnya : warna biru di Belanda
artinya hangat, di Iran berarti kematian, di Swedia berkonotasi dingin, di
India berarti kemurnian. Hal
ini menjadi penting karena warna produk dan kemasan harus memberikan arti yang
tepat di negara dimana produk tersebut dipasarkan.
Masalah
Promosi
Ketika berkomunikasi dengan konsumer di berbagai negara,
pesan promosi harus konsisten dengan bahasa dan budaya yang tepat dengan target
masyarakatnya. Contohnya :
perusahaan 7-up sukses dengan tema ’uncola’ di pasar US, menjadi tidak tepat
bagi banyak pasar asing karena hal itu tidak dialihbahasakan dengan baik dengan
bahasa setempat. Belajar
kesalahan dengan lebih cepat, perusahaan multinasional seperti P&G dan Ford
sekarang bekerja keras menjadi reseptif pada nilai dan rasa yang khusus pada
pasar lokal. Tindakan
cepatnya adalah menarik sponsorshipnya pada program tv di beberapa negara
ketika seks dan kekerasan pada tv show tersebut dinilai terlalu keras/berat.
Nama produk dan kalimat promosi juga bisa menyebabkan
suatu masalah bagi marketers internasional. Kata ’clock’ di Cina terdengar seperti
kata ’kematian’. Chevrolet
nova tidak terjual dengan baik di Amerika Latin karena di Spanyol kata nova
berarti ’tidak berlari’.
Masalah Harga dan Distribusi
Marketers internasional harus menyesuaikan peraturan
harga dan ditribusi mereka dengan kondisi ekonomi dan tradisi lokal. Sebagai contoh di banyak negara
berkembang, produk ukuran kecil sering menjadi keharusan karena konsumer tidak
dapat mengeluarkan biaya yang banyak untuk ukuran yang lebih besar yang lebih
populer di US dan negara kaya lainnya. Juga
harus diingat bahwa pandangan Amerika dengan ’harga murah’ bisa dipandang tidak
sama di negara lain. Contoh
: US fastfood franchises yang beroperasi di Mexico seperti McDonald, Burger
King, Wendy’s dinilai fastfood kelas mahal di Mexico.
Sistem distribusi tradisional Jepang berbeda dengan
sistem di US, hubungan yang kompleks terjadi antara perusahaan manufaktur
Jepang , distributor, dan retailernya. Contoh
: membutuhkan waktu selama 24 tahun bagi Jepang dari saat US mengenalkan
’apples’ nya sampai ’apples’ tersebut benar-benar mencapai pasar saat konsumer
Jepang bisa membelinya. Karena
itu, marketers harus dapat membedakan saluran distribusi mereka di berbagai
bangsa.
KESIMPULAN
Hampir semua perusahaan
utama secara aktif memasarkan produk mereka keluar dari negara asalnya. Banyak
perusahaan mengembangkan strategi untuk mengmbil keuntungan dari peluang
ekonomi yang muncul. Perusahaan –perusahaan yang menjual produknya ke berbagai
negara dengan berbagai alasan. Sejumlah besar perusahaan sekarang berusaha
merebut market share dipasar asing. Contohnya Starbucks telah membuka toko di
Jakarta Indonesia.
Banyak dan lebih banyak
konsumen termasuk berhubungan dengan material barang atau gaya hidup untuk
kehidupan masyarakat di bagian dunia yang lain, mereka mempunyai peluang untuk
mengadopsi praktek dan produk berbeda ini. Bagaimana konsumen pada sebuah
budaya menjamin mendapatkan barang untuk kehidupan masyarakat lainnya pada
budaya lain adalah sebuah bagian penting dari perilaku konsumen. Banyak
konsumen mau menerima budaya lain yang sangat berbeda dari budaya dinegara mereka.
Ketika konsumen membuat
keputusan pembelian, mereka mungkin mengambil dengan pertimbangan negara asal
untuk pilihan mereka. Para peneliti telah menunjukan bahwa konsumen menggunakan
pengetahuan mereka untuk produk mana yang dibuat dalam evaluasi produk pilihan
mereka. Sebuah jalan untuk menerangkan mengapa konsumen lebih suka membeli
produk buatan sebuah negara dan tidak berharap membeli produk negara lainnya,
atau mengapa konsumen dinegara berbeda menunjukan perilaku berbeda merupakan
adanya sebuah identitas nasional.
Analisis konsumen secara lintas budaya ini
adalah usaha untuk menentukan derajat persamaan dan perbedaan antara dua atau
lebih negara. Analisis tersebut dapat menyediakan pemahaman terhadap
karakteristik psikologis, sosial, dan budaya konsumen yang menjadi target bagi
pelaku pasar, sehingga mereka dapat mendesain strategi pemasaran yang efektif. Analisis konsumen lintas budaya banyak
dilakukan dengan semakin maraknya globalisasi, antara lain untuk mengetahui apa
kesamaan dan perbedaan antara dua atau lebih budaya. Sehubungan dengan kesamaan
standarisasi produk lebih dimungkinkan, sedangkan perbedaan selera dan pilihan
produk anatara konsumen lintas budaya mengharuskan pemasar mencari cara
beradaptasi supaya produknya diterima dinegara sasaran. Ada kemungkinan
standarisasi produk diikuti dengan cara-cara berbisnis dan pemasaran yang
berbeda antara negara yang satu dengan negara yang lainnya. Banyak ahli
beranggapan bahwa dalam pemasaran global, akulturasi sangat dibutuhkan. Dan
akulturasi harus dilakukan oleh pemasar terhadap budayalokal dan sebaliknya
agar produk bisa diteria dipasar sasaran konsumen juga harus dipengaruhi untuk
menerima nilai-nilai baru.
Beberapa
penjual berpendapat bahwa dunia pasar menjadi makin dan semakin mirip dan dibakukannya
standar penjualan, oleh karena itu, menjadi makin dapat dikerjakan dengan
mudah. Contohnya : Mobil Exxon telah mengeluarkan 150 juta
dolar untuk mempromosikan produknya, dan perusahaan menginginkan semua
advertisement untuk memiliki pandangan dan perasaan yang sama., tanpa
memperhatikan dimana 100 negara di dunia advertisement itu akan muncul.
Jelasnya, penjual lain merasa perbedaan antara konsumen dari berbagai negara
adalah terlalu jauh untuk mengijinkan strategi penjualan yang baku. Dalam prakteknya,
tantangan dasar untuk banyak eksekutif yang merenungkan penjualan multinasional
adalah untuk memutuskan apakah menggunakan pembagian kebutuhan dan nilai-nilai
(shared needs and values) sebagai strategi segmentasi atau menggunakan
rintangan nasional (national borders) sebagai strategi segmentasi
Terdapat perbedaan sikap atau perilaku yang penting
dalam menentukan kepuasan antar konsumer yang memungkinkan munculnya pembagian
consumer berdasarkan perbedaan kultur. Beberapa
perusahaan mungkin mendirikan strategi global branding, sedangkan perusahaan
lainnya dibentuk dengan strategi individual/local marketing.
Banyak marketers yang dalam market internasional
yang tidak tahu apakah produk, pendekatan promosi, aturan harga, atau saluran
eceran yang efektif di satu negara dan di negara lain serta mencoba menentukan
perubahan spesifik apa yang harus dilakukan untuk setiap pasar asing.
Marketers internasional seringnya menolak untuk
memodifikasi produknya untuk memenuhi keinginan budaya lokal. Marketers Amerika yang menjual produk
makanan di Jepang seringnya menemukan kesulitan yang akhirnya mengharuskan
mereka mengubah karakteristik asal produknya. Contoh lain, perusahaan besar cereal,
Kellogg, berusaha menghindari berbagai ’jebakan budaya’ yang berhubungan dengan
pasar makanan yang cross culture dalam ekspansi internasionalnya. Sudah dipelajari dengan hati-hati
perbedaan antara orang irlandia yang mengkonsumsi cereal paling banyak dengan
orang Perancis, Italia, dan Yunani yang sarapannya tidak memasukkan cereal.
Untuk mengatasi masalah ’jebakan budaya’ seperti
itu maka marketers harus memastikan dengan teliti apakah karakteristik fisik
produk mereka bisa diterima di pasar baru atau tidak. Warna juga merupakan variabel yang
penting dalam pasar internasional, karena satu warna yang sama sering memiliki
arti yang berbeda di budaya-budaya yang berbeda. Contohnya : warna biru di Belanda
artinya hangat, di Iran berarti kematian, di Swedia berkonotasi dingin, di
India berarti kemurnian. Hal
ini menjadi penting karena warna produk dan kemasan harus memberikan arti yang
tepat di negara dimana produk tersebut dipasarkan.
Ketika berkomunikasi dengan konsumer di berbagai
negara, pesan promosi harus konsisten dengan bahasa dan budaya yang tepat
dengan target masyarakatnya. Contohnya
: perusahaan 7-up sukses dengan tema ’uncola’ di pasar US, menjadi tidak tepat
bagi banyak pasar asing karena hal itu tidak dialihbahasakan dengan baik dengan
bahasa setempat. Belajar
kesalahan dengan lebih cepat, perusahaan multinasional seperti P&G dan Ford
sekarang bekerja keras menjadi reseptif pada nilai dan rasa yang khusus pada
pasar lokal. Tindakan
cepatnya adalah menarik sponsorshipnya pada program tv di beberapa negara
ketika seks dan kekerasan pada tv show tersebut dinilai terlalu keras/berat.
Nama produk dan kalimat promosi juga bisa menyebabkan
suatu masalah bagi marketers internasional. Kata ’clock’ di Cina terdengar seperti
kata ’kematian’. Chevrolet
nova tidak terjual dengan baik di Amerika Latin karena di Spanyol kata nova
berarti ’tidak berlari’.
Marketers internasional
harus menyesuaikan peraturan harga dan ditribusi mereka dengan kondisi ekonomi
dan tradisi lokal. Sebagai
contoh di banyak negara berkembang, produk ukuran kecil sering menjadi
keharusan karena konsumer tidak dapat mengeluarkan biaya yang banyak untuk
ukuran yang lebih besar yang lebih populer di US dan negara kaya lainnya. Juga harus diingat bahwa pandangan
Amerika dengan ’harga murah’ bisa dipandang tidak sama di negara lain. Contoh : US fastfood franchises yang
beroperasi di Mexico seperti McDonald, Burger King, Wendy’s dinilai fastfood
kelas mahal di Mexico.
Sistem distribusi tradisional Jepang berbeda dengan
sistem di US, hubungan yang kompleks terjadi antara perusahaan manufaktur
Jepang , distributor, dan retailernya. Contoh
: membutuhkan waktu selama 24 tahun bagi Jepang dari saat US mengenalkan
’apples’ nya sampai ’apples’ tersebut benar-benar mencapai pasar saat konsumer
Jepang bisa membelinya. Karena
itu, marketers harus dapat membedakan saluran distribusi mereka di berbagai
bangsa.
SARAN
Menurut kelompok kami, segmentasi
psikografis sangat berpengaruh pada lintas budaya itu dikarenakan ada
perbedaannya sikap dan perilaku menjadi krusial dalam menentukan kepuasan
misalnya dunia ini banyak sekali wanita yang bekerja untuk membantu suaminya
mencari nafkah itu akan merubah perilaku konsumen dalam membeli sesuatu produk.
Masalah produk adalah lebih baik
menggunakan produk negara kita sendiri atau yang sering disebut dengan
mencintai produk negeri sendiri, memang banyak merek pesaing dari luar negri. Contoh nya adalah seperti
negara kita Indonesia, di Indonesia banyak sekali merk barang-barang import
padahal dari negara kita sendiri mampu menghasilkan barang-barang yang bermerek
dengan produk yang berkualitas. Menurut kami sebaiknya gunakanlah barang produk buatan Indonesia
sekaligus melestarikan budaya yang ada di Indonesia, seperti cotohnya Batik.
Budaya di Indonesia saat ini mulai sirna dengan masuknya budaya luar negri ke
negara Indonesia. Dengan kita menggunakan produk dalam negri kita juga membantu
pemerintah dengan pemasukan pajak untuk membantu utang pemerintah walaupun
dengan jumlah yang tidak seberapa.
Dalam
hal untuk segmentasi psikografis lintas budaya ada beberapa perbedaan dalam
sikap dan perilaku untuk menentukan kepuasan yang memungkinkan untuk
menyediakan sebuah kesempatan dalam segmentasi konsumen budaya yang berbeda.
Seperti contoh di beberapa negara di dunia seperti Jepang dan Amerika banyak
peningkatan jumlah wanita yang bekerja di luar rumah beberapa perbedaan
tersebut dapat mengakibatkan perbedaan sikap dan perilaku dalam penentuan
kepuasan dalam sebuah kesempatan kerja. Menurut kelompok kami hal seperti ini adalah hal yang dapat memotivasi para
wanita untuk dapat mengembangkan karir atau pun keahlian wanita tersebut.
Kesimpulan
menurut kelompok
kami adalah dari merek pesaing yang ada di dunia dalam suatu produk lebih baik
menggunakan produk dari negara kita saja. Produk dalam negri juga tidak jauh
berbeda dengan kualitas produk import. Dalam hal ini kita juga dapat
melestarikan budaya yang ada d negara kita untuk tetap menggunakan atau
mengkonsumsi produk lokal. Dan para ketenagakerjaannya pun berkualitas pula,
pekerja wanita maupun pria nya. Karena menurut kami budaya wanita bekerja dalam
hal ini masih di bilang wajar karena wanita juga berhak mengembangkan keahlian
yang wanita punya.
DAFTAR PUSTAKA
Philip Kotler, 2003,
“Marketing Management”, 11th Edition, Prentice Hall Inc.
Schiffman Leon G, Kanuk
Leslie Lazar, 2007, “Consumer Behavior”, 9th Edition, Pearson
Educational Internasional, New Jersey-USA.
Schiffman Phillip & Kotter, 2004, “Consumer Behavior”, New Jersey :
Prentice Hall.
Soloon Micheal R, 2007,
“Consumer Behavior: Buying, Having and Being”, Seventh Edition, Pearson
Prentice Hall, New Jersey-USA.
Supranto J, Limakrisna
Nandan, 2007, “Perilaku Konsumen & Strategi Pemasaran”, Edisi Pertama,
Mitra Wacana Media, Jakarta-Indonesia.
Thank's Infonya Bray .. !!!
BalasHapuswww.bisnistiket.co.id
Terima kasih infonya gan.
BalasHapusLumayan buat nambah wawasan.
Gema Parfum
Parfum Estee Lauder.
----------